
Bursa suksesi Iran memanas. Majelis Ahli akan menentukan arah politik dan stabilitas Timur Tengah.
Mulamula.id – Untuk pertama kalinya sejak 1989, Iran menghadapi pergantian Pemimpin Tertinggi di tengah ketegangan militer yang tinggi. Wafatnya Ali Khamenei bukan hanya meninggalkan kekosongan simbolik, tetapi juga membuka pertarungan politik paling krusial dalam struktur Republik Islam.
Dalam sistem Iran, Pemimpin Tertinggi berada di puncak hierarki negara. Ia mengendalikan militer. Mengawasi kebijakan luar negeri. Memiliki pengaruh besar atas peradilan dan lembaga keamanan.
Proses penggantiannya kini menjadi sorotan global.
Bagaimana Mekanismenya?
Iran menganut prinsip velayat-e faqih, yaitu perwalian oleh ahli hukum Islam. Pengganti Khamenei akan dipilih oleh Majelis Ahli, badan beranggotakan 88 ulama yang dipilih rakyat setiap delapan tahun.
Dalam masa transisi, kepemimpinan bisa dijalankan secara kolektif sebelum figur tunggal ditetapkan.
Baca juga: Serangan AS-Israel Tewaskan Ali Khamenei, Apa Dampaknya ke Dunia?
Artinya, suksesi ini bukan sekadar formalitas. Sebagaimana dikutip berbagai media lokal Iran, ini pertarungan pengaruh antara ulama, elite politik, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
1. Mojtaba Khamenei
Putra kedua Khamenei ini menjadi nama paling sering disebut.
Ia dikenal memiliki jaringan kuat di lingkaran elite, termasuk IRGC.
Namun isu dinasti menjadi tantangan serius. Suksesi ayah ke anak berisiko memicu kritik karena dianggap menyerupai sistem monarki yang digulingkan pada Revolusi 1979.
Jika terpilih, legitimasi publik bisa menjadi ujian awal.
2. Alireza Arafi
Ulama senior ini menjabat Wakil Ketua Majelis Ahli dan anggota Dewan Penjaga.
Ia juga masuk dalam struktur kepemimpinan sementara pasca wafatnya Khamenei.
Basis kekuatannya ada di Qom, pusat pendidikan Syiah. Meski tidak populer secara politik, ia memiliki pengaruh institusional kuat.

3. Mohammed Mehdi Mirbagheri
Tokoh garis keras yang dikenal kritis terhadap Barat.
Ia memimpin lembaga pendidikan Islam di Qom dan menjadi anggota Majelis Ahli.
Mirbagheri didukung faksi konservatif yang menginginkan sikap lebih tegas terhadap tekanan eksternal. Jika namanya menguat, kebijakan luar negeri Iran bisa semakin konfrontatif.
4. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Saat ini memimpin lembaga peradilan Iran.
Ia pernah menjabat menteri intelijen dan jaksa agung.
Profilnya identik dengan pendekatan keamanan dan stabilitas internal. Ia dekat dengan sayap konservatif rezim.
5. Hassan Khomeini
Cucu pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Berbeda dari kandidat lain, ia dikenal lebih moderat. Ia belum pernah memegang jabatan publik besar, tetapi memiliki nilai simbolik kuat.
Upayanya masuk Majelis Ahli pada 2016 sempat gagal. Namun namanya tetap muncul dalam setiap diskusi suksesi.
Apa Taruhannya?
Pemilihan Pemimpin Tertinggi bukan isu domestik semata. Ini berdampak pada:
- Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel
- Stabilitas keamanan Timur Tengah
- Harga minyak global
- Dinamika pasar keuangan dunia
Bagi Indonesia, efeknya bisa terasa pada sektor energi dan nilai tukar.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Tunda Kepulangan Jemaah Umrah
Suksesi ini juga akan menunjukkan apakah Iran bergerak ke arah konsolidasi garis keras atau membuka ruang diplomasi baru.
Keputusan Majelis Ahli akan menentukan wajah Iran dalam dekade mendatang. Dunia kini menunggu. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.