
SOSOK mungil, berambut merah menyala seperti api, dan dikenal suka menjahili pemburu yang merusak hutan. Namanya Curupira, makhluk legendaris dari hutan Amazon yang kini jadi wajah baru perjuangan iklim dunia.
Brasil memilih Curupira sebagai maskot resmi Konferensi Iklim PBB COP30, yang digelar di Kota Belem pada 10–21 November 2025. Bukan tanpa alasan. Legenda ini melambangkan tekad negeri itu menjaga hutan dan memimpin aksi global melawan krisis iklim.
Dari Cerita Rakyat ke Panggung Dunia
Curupira sudah hidup dalam cerita rakyat Brasil selama berabad-abad. Ia digambarkan sebagai anak laki-laki berambut api, bertubuh kecil, dan punya kaki yang menghadap ke belakang, agar bisa mengecoh jejak pemburu yang ingin menebang pohon.
Baca juga: COP30, Perjuangan Negara Berkembang untuk Keadilan Iklim
“Curupira adalah pelindung hutan dan hewan. Ia melakukan segala cara agar alam tidak dirusak,” kata Januaria Silva, penulis buku O Curupira e outros seres fantásticos do folclore brasileiro, seperti dikutip dari situs resmi COP30 Brasil Amazonia.
Konon, kisah tentang Curupira pertama kali ditulis pada tahun 1560 oleh Pastor Jose de Anchieta, seorang misionaris Jesuit di Sao Paulo. Ia mencatat bagaimana masyarakat adat sangat menghormati sosok ini dan bahkan memberikan persembahan agar tidak diganggu.

Simbol dari Hati Amazon
Bagi masyarakat Brasil, Curupira bukan sekadar dongeng, tapi bagian dari identitas mereka. Ia hadir dalam kesenian, lagu anak-anak, hingga mural di dinding kota Belem. “Cerita rakyat seperti Curupira adalah bentuk pendidikan lingkungan sejak dini,” ujar peneliti asal Belem yang menulis Histórias de Curupira, Dr. Paulo Maues.
Menurut Maues, legenda seperti Curupira, Boto (lumba-lumba merah muda), dan Iara (Dewi Air) menjadi cara masyarakat Amazon mengajarkan rasa hormat terhadap alam.
Baca juga: Revolusi Iklim dari Brasil, Kontribusi Global Tanpa Batas Negara
Kini, Brasil menghadirkan kembali tokoh-tokoh itu di panggung global, sebagai simbol diplomasi hijau yang berpadu antara budaya dan sains.
Curupira Turun ke Jalan
Menjelang COP30, sosok Curupira mulai muncul di berbagai sudut kota Belem. Ia ikut Car Free Day dengan bersepeda, berfoto di depan kapal pesiar tempat delegasi menginap, bahkan hadir di mural interaktif di taman kota.
Baca juga: Brasil Pecah Rekor Investasi Hutan
Bagi profesor di Universidade da Amazonia (UNAMA), Elaine Oliveira, kehadiran Curupira adalah bentuk edukasi kreatif yang dekat dengan generasi muda.

“Simbol seperti Curupira membuat isu iklim terasa nyata dan relevan. Ia membawa pesan serius dengan cara yang hangat,” katanya.
Ketika Dongeng Jadi Inspirasi
Langkah Brasil ini menunjukkan bahwa perang melawan krisis iklim tak hanya soal data dan kebijakan, tapi juga soal imajinasi dan identitas.
Curupira, sang penjaga hutan berambut api, kini jadi pengingat bahwa dalam setiap cerita lama, tersimpan pesan masa depan, menjaga bumi agar tetap hidup. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.