AI Haus Listrik, Mengapa Google Kini Membeli Pembangkit Energi

Perkembangan AI bertumpu pada mesin komputasi berdaya tinggi, dan kebutuhan listrik yang terus membesar. Foto: Ilustrasi/ Miguel Á. Padriñán/ Pexels.

KECERDASAN buatan tidak hanya butuh data. Tapi, juga butuh listrik. Dan, banyak.

Inilah alasan mengapa Alphabet, induk Google, mengambil langkah yang tak biasa. Perusahaan teknologi itu mengumumkan rencana mengakuisisi Intersect, pengembang energi bersih asal Amerika Serikat, dengan nilai sekitar US$4,75 miliar atau hampir Rp80 triliun.

Langkah ini menandai perubahan penting. Big Tech tidak lagi cukup membeli listrik hijau dari luar. Kini, mereka mulai memiliki pembangkitnya sendiri.

AI dan Masalah yang Jarang Dibicarakan, Energi

Ledakan AI membuat kebutuhan komputasi melonjak tajam. Data center tumbuh di mana-mana. Server bekerja tanpa henti. Semua itu menyedot listrik dalam skala raksasa.

Baca juga: AI Nggak Cuma Pintar, tapi Rakus Energi

Selama ini, perusahaan teknologi mengandalkan skema pembelian energi terbarukan lewat kontrak jangka panjang. Tapi, model itu mulai terasa tidak cukup. Beban AI terlalu besar. Terlalu cepat. Terlalu mahal jika hanya bergantung pada pihak lain.

Akuisisi Intersect menjadi jawaban Google atas tantangan itu.

Bukan Sekadar Investasi Hijau

Intersect bukan pemain kecil. Perusahaan ini mengelola dan mengembangkan aset energi bersih bernilai sekitar US$15 miliar. Target kapasitasnya pada 2028 mencapai 10,8 gigawatt, lebih dari 20 kali daya Bendungan Hoover.

Baca juga: Pemerintah Ngebut Digitalisasi, OSS Siap Adopsi Kecerdasan Buatan

Yang dibeli Alphabet bukan hanya proyek energi, tapi juga akses langsung ke sumber listrik untuk menopang ekspansi data center Google di Amerika Serikat.

Beberapa aset memang tidak ikut diakuisisi, termasuk proyek Intersect di Texas dan California. Namun, salah satu proyek penting tetap berjalan: sistem penyimpanan energi bersih yang dibangun tepat di samping data center Google.

Dari Pembeli Energi ke Pemilik Infrastruktur

Langkah ini mengubah posisi Big Tech. Google bukan lagi sekadar pelanggan listrik. Sebaliknya, mulai bertransformasi menjadi pemilik infrastruktur energi.

Baca juga: Kenapa Dunia Ngebet Bikin Matahari Buatan?

CEO Alphabet, Sundar Pichai, menyebut Intersect akan membantu Google membangun pembangkit lebih cepat dan lebih gesit, seiring lonjakan kebutuhan daya akibat AI.

Pesannya jelas, masa depan AI tidak bisa dilepaskan dari kontrol energi.

Dampaknya ke Mana-mana

Apa yang dilakukan Google bisa menjadi preseden. Perusahaan teknologi lain menghadapi masalah serupa. AI terus berkembang, sementara pasokan listrik tidak selalu siap.

Baca juga: Era Travel Baru, Ketika AI Mengambil Alih Perjalananmu

Jika tren ini berlanjut, peta industri energi bisa berubah. Perusahaan teknologi tak lagi hanya “pengguna”. Mereka bisa menjadi pemain besar di sektor energi bersih.

Dan bagi publik, pertanyaannya jadi lebih besar. Ketika raksasa teknologi menguasai listriknya sendiri, siapa yang memastikan energi tetap adil dan berkelanjutan? ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *