
GREENLAND selama ini dikenal sebagai pulau es di ujung dunia. Sepi. Dingin. Terasa jauh dari hiruk-pikuk politik global. Tapi, situasi itu berubah cepat.
Pulau terbesar di dunia ini kini berada di pusat perhatian setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan keinginan AS untuk mengambil alih Greenland. Alasannya terdengar klasik, keamanan nasional. Namun di balik itu, ada cerita yang jauh lebih besar tentang krisis iklim, sumber daya alam, dan perebutan pengaruh global.
Dari Pulau Es ke Aset Strategis
Sekitar 81 persen wilayah Greenland masih tertutup es. Tapi pemanasan global membuat lapisan es itu terus mencair. Dampaknya bukan hanya lingkungan, tapi juga geopolitik.
Baca juga: Studi Prediksi Arktik Alami Musim Panas Tanpa Es Laut pada 2027
Es yang mencair membuka akses ke cadangan minyak, gas, dan mineral tanah jarang, bahan penting untuk mobil listrik, turbin angin, hingga teknologi militer. Pada saat yang sama, jalur pelayaran Arktik mulai bisa dilalui lebih lama sepanjang tahun. Rute ini berpotensi memangkas jarak tempuh pengiriman barang antar-benua.
Greenland pun berubah. Dari wilayah terpencil menjadi aset strategis.

Bukan Sekadar Soal Amerika
Greenland berstatus wilayah otonom di bawah Denmark. Urusan pertahanan dan luar negeri masih dipegang Kopenhagen. Karena itu, pernyataan Trump memicu respons keras dari Denmark dan negara-negara Eropa.
Mereka menegaskan bahwa Greenland bukan barang dagangan. Pemerintah Greenland juga menyuarakan hal yang sama. Wilayah itu tidak untuk dijual, apalagi direbut.
Baca juga: Ketika Es Antartika Mencair, Badai Laut Datang Lebih Sering
Bagi warga lokal, sekitar 57 ribu jiwa, mayoritas dari suku Inuit, Greenland adalah rumah. Perekonomian mereka selama ini bertumpu pada perikanan, bukan industri ekstraktif skala besar.
Krisis Iklim dan Tarik-menarik Kepentingan
Yang membuat Greenland unik adalah perannya dalam krisis iklim global. Di satu sisi, dunia mendorong transisi energi bersih. Di sisi lain, bahan baku transisi itu justru berada di wilayah yang rentan secara ekologis.
Greenland bahkan sempat menghentikan izin eksplorasi minyak dan gas pada 2021 karena alasan lingkungan. Namun tekanan geopolitik membuat keputusan-keputusan semacam ini semakin sulit dipertahankan.

Pulau ini kini menjadi simbol dilema global: bagaimana menyeimbangkan ambisi ekonomi, kebutuhan energi, dan perlindungan lingkungan.
Lebih dari Sekadar Pulau Es
Greenland hari ini bukan lagi latar belakang peta dunia. Ia menjadi cermin masa depan. Tentang bagaimana krisis iklim bisa mengubah wilayah terpencil menjadi pusat perebutan kekuasaan.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling bertanggung jawab. ***
Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.