
Jakarta bukan lagi sekadar ibu kota.
Jakarta sudah berubah menjadi kota raksasa dengan skala global.
Data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa wilayah Jakarta kini menampung sekitar 41,9 juta orang. Bukan hanya yang tinggal di DKI, tapi juga mereka yang setiap hari datang dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi untuk bekerja, sekolah, dan menjalani hidup.
Dalam hitungan global, Jakarta kini tercatat sebagai wilayah metropolitan terpadat di dunia.
Lebih padat dari Tokyo.
Lebih besar dari Shanghai.
Lebih sibuk dari Seoul.
Masalahnya, cara kita mengelola Jakarta belum ikut berubah.
Kota yang Sudah Terlalu Besar
Angka 41,9 juta itu bukan karena tiba-tiba banyak bayi lahir di Jakarta. Dunia kini mengukur kota dengan cara baru. Bukan lagi dari batas wilayah, tapi dari kepadatan aktivitas manusia.
Jika jutaan orang tinggal di Bekasi, tapi bekerja di Jakarta, mereka tetap dihitung sebagai bagian dari kota yang sama. Infrastruktur, jalan, kereta, air, dan listrik semuanya dipakai bersama.
Baca juga: Jakarta Diguyur Hujan Mikroplastik, Ancaman Baru dari Sampah Kota
Jakarta hari ini adalah satu tubuh besar yang hidup dari jutaan pergerakan setiap hari.
Namun kebijakan kita masih membaca Jakarta sebagai kota kecil dengan penduduk resmi sekitar 11 juta orang. Inilah yang membuat banyak masalah terasa seperti tak pernah selesai.
Transportasi selalu penuh.
Rumah makin mahal.
Pinggiran kota tumbuh tanpa arah.
Jakarta membesar. Sistemnya tertinggal.
Baca juga: Jakarta Kota Termacet Ketujuh di Dunia, Apa Solusinya?

Kota Kaya yang Rapuh
Jakarta adalah mesin ekonomi Indonesia. Uang, kantor pusat, pusat belanja, dan industri digital terkonsentrasi di sini. Tapi di saat yang sama, kota ini juga sangat rentan.
Sebagian besar wilayah Jakarta terus turun ke bawah permukaan laut. Banjir pesisir makin sering. Tanah makin ambles. Risiko iklim bukan lagi cerita masa depan, tapi bagian dari hidup harian.
Baca juga: MRT Bikin Mal Jakarta Naik Kelas
Di atas tanah yang rapuh itu berdiri gedung-gedung mahal, apartemen, dan pusat bisnis. Jika kawasan ini terganggu, dampaknya bukan hanya ke warga, tapi juga ke bank, investor, dan ekonomi nasional.
Jakarta terlalu penting untuk gagal. Tapi. juga terlalu besar untuk terus dikelola dengan cara lama.
Ibu Kota Boleh Pindah, Hidup Tetap di Jakarta
Pemindahan ibu kota ke Nusantara sering dianggap sebagai jalan keluar dari masalah Jakarta. Padahal, manusia dan uang tidak ikut pindah.
Jakarta tetap menjadi pusat kerja, bisnis, dan peluang. Bahkan PBB memprediksi wilayah ini bisa menembus lebih dari 50 juta orang pada 2050.
Baca juga: Limbah Mandi dan Cuci Bikin Sungai Jakarta Sengsara
IKN memindahkan fungsi pemerintahan.
Jakarta tetap memikul beban kehidupan.
Kota Baru, Cara Lama
Inilah inti persoalan Jakarta hari ini. Kota ini sudah masuk level dunia. Tapi, sistem yang mengelolanya masih level lama.
Jakarta sudah menjadi megacity global.
Negara belum sepenuhnya siap mengurus kota sebesar ini.
Dan selama jurang itu belum ditutup, tekanan akan terus terasa. Di jalan, di rumah, di udara, dan di dompet warganya. ***