
JAKARTA, mulamula.id – Isu Gaza membawa kembali para diplomat senior Indonesia ke satu meja. Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah mantan Menteri Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri ke Istana Merdeka, Rabu (4/2). Pertemuan berlangsung hampir tiga jam. Topiknya sensitif, arah baru peran Indonesia dalam upaya perdamaian di Gaza.
Forum ini membahas wacana keterlibatan Indonesia dalam sebuah inisiatif bernama Board of Peace (BoP) Gaza, sebuah dewan yang diklaim berfokus pada dorongan gencatan senjata dan stabilisasi kawasan.
Diplomasi Senior Turun Gunung
Sejumlah nama besar hadir. Ada Retno Marsudi, Marty Natalegawa, Alwi Shihab, hingga diplomat publik Dino Patti Djalal. Turut diundang pula Hassan Wirajuda serta beberapa mantan wakil menteri luar negeri dari lintas era.
Langkah ini memberi sinyal bahwa pemerintah ingin keputusan soal Gaza dibahas dengan perspektif lintas generasi diplomasi Indonesia, bukan keputusan sepihak.
Alwi Shihab menyampaikan bahwa Presiden menegaskan posisi dasar Indonesia tak berubah. Dukungan terhadap perjuangan Palestina dan solusi dua negara tetap jadi pijakan utama. “Jika inisiatif ini tak sejalan dengan prinsip Indonesia, kita bisa keluar dengan mudah,” jelasnya.
Pesan itu menjadi semacam “rem darurat” diplomatik. Artinya, keikutsertaan Indonesia bukan cek kosong.
Kenapa Indonesia Tertarik?
Dino Patti Djalal melihat BoP sebagai salah satu sedikit kanal yang tersedia untuk menekan kekerasan di Gaza Strip. Menurutnya, opsi konkret di level global memang terbatas.
Dalam situasi genting, kadang diplomasi harus memakai jalur yang tersedia, walau hasilnya belum tentu instan.
Baca juga: Indonesia Masuk Dewan Perdamaian Gaza, Babak Baru Diplomasi Aktif
Ia juga menyinggung isu sensitif, rencana iuran anggota yang disebut mencapai US$1 miliar. Namun, angka itu disebut masih sebatas pembahasan awal.
Duit dari Mana?
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan skema pendanaan belum final. Ia menepis spekulasi bahwa iuran akan langsung membebani APBN. Opsi pembayaran bertahap disebut sedang dikaji.
Artinya, pemerintah masih berhitung. Bukan cuma soal diplomasi, tapi juga beban fiskal.
Bagi publik muda, ini jadi pengingat bahwa kebijakan luar negeri tak hanya soal idealisme, tapi juga soal anggaran negara dan prioritas dalam negeri.
Retno Pilih Diam
Berbeda dengan yang lain, Retno Marsudi memilih tak berkomentar usai pertemuan. Respons singkatnya menambah kesan bahwa diskusi di dalam ruangan berlangsung serius dan belum sepenuhnya matang untuk dipublikasikan.
Apa Artinya Buat Indonesia?
Langkah ini menunjukkan dua hal. Pertama, Indonesia ingin tetap relevan dalam isu global, khususnya Palestina. Kedua, pemerintah berhati-hati agar langkah internasional tidak berbenturan dengan prinsip konstitusi dan kepentingan domestik.
Bagi Gen Z yang sering melihat konflik Gaza lewat timeline media sosial, ini sisi lain yang jarang terlihat. Diplomasi itu lambat, penuh hitung-hitungan, dan sering berjalan di wilayah abu-abu antara moral dan realitas politik.
Indonesia sedang mencoba berada di jalur itu, tanpa kehilangan kompasnya. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.