Serasa di Nepal, Padahal di Magelang: Ini Dia Nepal Van Java

Permukiman warna-warni Dusun Butuh di lereng Gunung Sumbing, Magelang, yang dikenal sebagai Nepal Van Java. Foto: Hamdani S Rukiah/ Mulamula.

KALAU lihat fotonya sekilas, banyak orang mengira ini di luar negeri. Rumah-rumah warna-warni berdiri bertumpuk di lereng gunung, kabut tipis turun dari perbukitan, dan ladang hijau membentang seperti permadani alam. Tapi, ini bukan Nepal. Ini ada di Indonesia, tepatnya di Dusun Butuh, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Karena tampilannya yang unik itulah, desa ini dijuluki Nepal Van Java. Letaknya di lereng Gunung Sumbing, salah satu gunung tertinggi di Jawa Tengah. Posisi desa yang menempel di lereng curam bikin pemandangannya dramatis dari hampir semua sudut. Mulamula datang langsung ke Nepal Van Java untuk melihat sendiri suasananya.

Kampung Biasa yang Mendadak Jadi Destinasi

Awalnya, Dusun Butuh adalah kampung pertanian dataran tinggi seperti desa-desa lain di sekitarnya. Warga menanam kentang, kubis, dan berbagai sayuran. Tapi sejak foto-foto desa ini viral di media sosial, suasananya berubah.

Sekarang banyak pengunjung datang hanya untuk melihat langsung pemandangan yang selama ini mereka lihat di Instagram dan TikTok. Gang sempit yang dulu hanya dilewati warga, kini ramai orang berfoto. Teras rumah jadi latar selfie. Tangga-tangga kecil di antara rumah jadi spot favorit.

Baca juga: Hotel Setipis Ini Ada di Salatiga, View-nya Langsung Gunung

Warga pun mulai beradaptasi. Ada yang membuka homestay, ada yang menyediakan jasa ojek desa untuk mengantar wisatawan naik-turun lereng, ada juga yang membuka warung kecil. Pariwisata pelan-pelan jadi sumber penghasilan tambahan.

Ladang terasering dan permukiman Dusun Butuh berdampingan di lereng Gunung Sumbing, menunjukkan kehidupan warga Nepal Van Java yang tetap bertumpu pada pertanian. Foto: Hamdani S Rukiah/ Mulamula.
Pemandangan Indah, Medan yang Nggak Main-main

Yang bikin Nepal Van Java menarik justru juga jadi tantangannya. Desa ini berdiri di lereng yang cukup curam. Jalan-jalannya menanjak dan sempit, jadi mobil besar sulit masuk. Banyak pengunjung akhirnya parkir di bawah lalu lanjut naik ojek atau jalan kaki.

Baca juga: Dulu Rumah Kelelawar, Kini Jadi Spot Heritage Keren di Solo

Di sekitar desa, ladang-ladang sayur dibuat bertingkat mengikuti bentuk lereng. Dari jauh terlihat cantik, tapi di balik itu ada kerja keras warga menjaga tanah tetap stabil dan subur. Hidup di dataran tinggi seperti ini memang menuntut keseimbangan antara alam dan aktivitas manusia.

Bukan Cuma Tempat Foto

Meski sering muncul di media sosial sebagai “desa aesthetic”, Nepal Van Java tetaplah kampung tempat orang tinggal dan beraktivitas sehari-hari. Anak-anak sekolah, warga bertani, ibu-ibu berbelanja, semua berjalan berdampingan dengan wisatawan yang datang silih berganti.

Baca juga: Solo Art Market, Surganya Produk Kreatif Karya Anak Muda

Karena itu, pengunjung diharapkan tetap menghormati ruang hidup warga. Jangan asal masuk halaman rumah, jangan buang sampah sembarangan, dan tetap sopan saat mengambil foto.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Datang, Lihat, dan Nikmati dengan Bijak

Nepal Van Java menunjukkan bahwa desa kecil pun bisa dikenal luas berkat keindahan lanskapnya. Tapi di balik foto-foto cantik itu ada kehidupan nyata yang terus berjalan. Datang ke sini bukan cuma soal berburu konten, tapi juga belajar melihat bagaimana manusia dan alam berbagi ruang di lereng gunung.

Kalau kamu ingin suasana sejuk, pemandangan hijau, dan pengalaman berbeda dari hiruk-pikuk kota, Nepal Van Java bisa jadi pilihan. Asal ingat, kamu sedang bertamu di kampung orang.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *