
DUNIA bicara soal krisis iklim.
Dunia juga berjanji.
Pada 2023, puluhan negara sepakat meningkatkan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030. Targetnya jelas. Tekan emisi, kurangi batu bara, percepat transisi energi.
Tapi, data terbaru memberi tanda tanya besar.
Laporan dari Global Energy Monitor (GEM) menunjukkan pengumuman dan dimulainya pembangunan proyek energi surya dan angin pada 2025 turun 11 persen dibanding 2024. Padahal tahun sebelumnya sempat tumbuh 22 persen.
Momentum itu melambat.
Barat Melambat, Timur Bergerak
Proyek energi angin menghadapi hambatan politik dan kegagalan lelang di sejumlah negara maju. Regulasi berubah. Dukungan goyah. Investor jadi hati-hati.
Kontribusi negara-negara G7 terhadap pertumbuhan global pun kecil. Sebaliknya, pusat pertumbuhan justru bergeser ke Asia dan negara berkembang.
Baca juga: Transisi Energi Global: Maju di Sumber, Tertinggal di Emisi
China tetap jadi mesin utama. Negara ini menyumbang sekitar sepertiga pertumbuhan kapasitas global pada 2025. Tambahan kapasitasnya bahkan melampaui gabungan enam negara berikutnya.
Tapi, satu negara tidak cukup menyelamatkan dunia.
Target Global di Jalur Rawan
Hampir 40 persen proyek surya dan angin mengalami keterlambatan, ditangguhkan, atau dibatalkan. Ini bukan soal kurang teknologi. Biaya panel surya terus turun. Turbin angin makin efisien.
Baca juga: China Kuasai 50% Energi Terbarukan Global pada 2030
Masalahnya ada di tata kelola.

Perizinan lambat. Infrastruktur jaringan belum siap. Skema pembiayaan belum matang. Risiko kebijakan membuat proyek tersendat.
Baca juga: Energi 2050, Dunia Masih Belum Move On dari Fosil
Bahkan jika seluruh proyek yang sudah diumumkan berjalan sesuai rencana, dunia masih berisiko gagal mencapai target 2030.
Artinya, jarak antara janji dan realisasi masih lebar.
Indonesia, Jangan Terjebak Seremonial
Bagi Indonesia, ini alarm.
Target bauran energi terbarukan sudah dipasang. Proyek PLTS, PLTB, dan pembangkit hijau lain mulai bermunculan. Transisi energi masuk dokumen resmi dan forum internasional.
Tapi pengalaman global menunjukkan satu hal, komitmen tanpa konsistensi bisa runtuh.
Indonesia masih menghadapi persoalan klasik. Ketergantungan pada batu bara. Infrastruktur transmisi terbatas. Proses perizinan panjang. Ketidakpastian insentif.
Kalau dunia saja bisa melambat, Indonesia harus ekstra disiplin.
Baca juga: Antara Ideal dan Biaya, Dilema Indonesia dalam Transisi Energi
Transisi energi bukan sekadar memasang panel surya di atap gedung atau meresmikan turbin angin baru. Ini soal reformasi sistem kelistrikan. Soal kepastian regulasi jangka panjang. Soal keberanian menahan godaan energi fosil murah.
Waktu menuju 2030 tidak panjang.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah kita setuju dengan energi hijau? Tapi, siapa yang benar-benar siap menjalankannya.
Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.