
MAKKAH, mulamula.id – Ibadah haji tahun ini bukan hanya menguji spiritualitas. Cuaca ekstrem mulai menjadi tantangan serius yang harus dihadapi ribuan jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Suhu di Makkah dan Madinah kini berkisar antara 38 hingga 42 derajat Celsius. Angka itu cukup untuk membuat risiko dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan kesehatan meningkat, terutama menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Kementerian Haji dan Umrah RI mulai mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan aktivitas fisik di tengah panas ekstrem.
Gelombang panas adalah kondisi ketika suhu udara berada jauh di atas rata-rata normal dalam periode tertentu dan berisiko mengganggu kesehatan manusia, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit bawaan.
Baca juga: Bir Ali, Gerbang Spiritual Jemaah Sebelum Memasuki Tanah Suci
“Puncak haji adalah fase ibadah yang sangat membutuhkan stamina. Jangan sampai tenaga habis sebelum waktunya,” kata Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha, di Makkah, Minggu (10/5).
Hingga hari ke-20 operasional haji 1447 H/2026 M, sebanyak 125.243 jemaah Indonesia telah diberangkatkan ke Arab Saudi. Dari jumlah itu, 78.946 jemaah sudah berada di Makkah setelah bergerak dari Madinah.
Ancaman Cuaca
Panas sebenarnya bukan hal baru dalam penyelenggaraan haji. Namun dalam beberapa tahun terakhir, suhu di Arab Saudi semakin sering mencapai level ekstrem.
Suhu tinggi kini menjadi salah satu risiko utama dalam pelaksanaan ibadah haji modern.
Kondisi itu membuat pemerintah mulai menempatkan isu kesehatan sebagai prioritas utama, bukan sekadar layanan pendukung.
Jemaah diminta mengurangi aktivitas di luar hotel saat siang hari. Minum air putih secara rutin juga menjadi anjuran utama untuk mencegah dehidrasi.
Baca juga: 25 Tahun ke Depan, Haji Tak Lagi Didominasi Musim Panas
Selain itu, pola istirahat diminta dijaga ketat. Sebab fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) dikenal sebagai rangkaian ibadah paling menguras tenaga selama musim haji.
Kementerian juga memberi perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan mereka yang memiliki komorbid.
Saat ini, tercatat 67 jemaah Indonesia masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi.

Disiplin Jadi Kunci
Pemerintah menilai keselamatan jemaah kini tidak hanya bergantung pada layanan medis, tetapi juga kedisiplinan pribadi.
Karena itu, jemaah diminta segera melapor jika mengalami gejala kesehatan sekecil apa pun. Mulai dari pusing, lemas, sesak napas, hingga tanda dehidrasi ringan.
“Kami siaga 24 jam, tetapi keberhasilan menjaga kesehatan sangat bergantung pada kedisiplinan jemaah sendiri,” ujar Ichsan.
Baca juga: Arafah, Titik Puncak Haji yang Tak Boleh Dilewatkan
Selain isu kesehatan, pemerintah juga kembali mengingatkan bahaya haji nonprosedural.
Menurut Ichsan, penggunaan visa selain visa haji resmi membuat jemaah berada di luar sistem perlindungan pemerintah Indonesia maupun Arab Saudi.
Karena itu, pemerintah membentuk Satgas Pencegahan dan Penegakan Hukum Haji Nonprosedural yang melibatkan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan serta Bareskrim Polri.
Haji dan Perubahan Iklim
Fenomena suhu ekstrem dalam musim haji juga mulai dikaitkan dengan perubahan iklim global.
Sejumlah penelitian internasional sebelumnya memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah termasuk wilayah yang mengalami kenaikan suhu tercepat di dunia.
Artinya, ibadah haji di masa depan kemungkinan akan semakin dipengaruhi faktor cuaca dan ketahanan fisik jemaah.
Baca juga: Tak Hanya Doa, Ibadah Haji Menuntut Fisik yang Tangguh
Implikasinya tidak kecil. Penyelenggaraan haji ke depan tidak cukup hanya bicara kuota dan akomodasi, tetapi juga adaptasi terhadap risiko iklim dan kesehatan.
Pemerintah kemungkinan perlu memperkuat sistem mitigasi panas, edukasi kesehatan, hingga pola mobilitas jemaah yang lebih aman di tengah suhu ekstrem.
Di tengah tantangan itu, pemerintah juga menyampaikan kabar duka. Hingga saat ini, sebanyak 23 jemaah Indonesia dilaporkan wafat di Arab Saudi.
Kementerian berharap seluruh jemaah tetap menjaga kesehatan dan tidak memaksakan diri selama menjalankan ibadah.
“Haji bukan hanya soal sampai di Tanah Suci, tetapi bagaimana ibadah ini dijalankan dengan tertib, aman, dan bermartabat,” kata Ichsan. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.