
MINGGU malam biasanya punya ritual sederhana.
Menyiapkan seragam. Memastikan alarm menyala. Mengecek jadwal pelajaran. Lalu bersiap menghadapi Senin.
Tapi Senin, 7 September 2026, berbeda bagi pelajar di Jakarta.
Mereka tidak perlu berangkat ke sekolah.
Bukan karena banjir. Bukan karena pandemi.
Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah mencapai Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan seluruh satuan pendidikan menjalani pembelajaran jarak jauh atau PJJ mulai Senin. Kebijakan berlaku bagi sekolah negeri dan swasta, dari PAUD hingga SMA sederajat.
Sekolah Pindah Rumah
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengatakan keputusan tersebut diambil untuk menjaga kesehatan dan keselamatan siswa, guru, serta tenaga kependidikan.
“Kami ingin memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan nyaman. Karena itu, untuk sementara pembelajaran dilakukan dari rumah,” kata Nahdiana, Minggu.
PJJ bukan berarti sekolah berhenti.
Baca juga: Abu Anak Krakatau Lumpuhkan Bandara Soekarno-Hatta
Dinas Pendidikan memastikan pembelajaran tetap berjalan dan akan mengevaluasi kebijakan sesuai perkembangan kondisi udara serta sebaran abu vulkanik.
Keputusan itu menunjukkan betapa luas dampak sebuah erupsi.
Anak Krakatau berada di Selat Sunda. Tetapi material yang dilepaskannya tidak mengenal batas administrasi.
BMKG pada Minggu pagi mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Pada lapisan hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur dan menjangkau sebagian Jakarta, Banten, serta Jawa Barat. Sementara abu di lapisan lebih tinggi terpantau mencapai sekitar 50.000 kaki.
Bukan Sekadar Debu
Abu vulkanik juga bukan debu biasa.
Partikelnya sangat kecil dan dapat terhirup.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan paparan dalam intensitas tinggi dapat memicu gangguan seperti infeksi saluran pernapasan akut, iritasi mata, hingga gangguan kulit. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular termasuk kelompok paling rentan.
Pesannya sederhana.
“Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah,” kata Budi.
Jika harus keluar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker dan pelindung mata.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga meminta warga menerapkan langkah perlindungan ketika wilayahnya terdampak abu vulkanik.
Ia mengingatkan warga memakai masker, menutup pintu dan jendela, melindungi sumber air, serta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika abu cukup pekat.
Satu Erupsi, Banyak Dampak
Gangguan bahkan sudah lebih dulu terasa di udara.
Erupsi Anak Krakatau memaksa sejumlah bandara menghentikan sementara operasional. BNPB mencatat Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug termasuk bandara yang sempat ditutup pada Minggu pagi.
Reuters melaporkan sedikitnya 301 penerbangan terganggu, termasuk 58 penerbangan internasional.
Kini dampaknya masuk ke ruang kelas.
Dan di sinilah erupsi Anak Krakatau terasa berbeda bagi jutaan warga kota.
Bencana tidak selalu datang sebagai lava yang terlihat dari depan rumah.
Kadang ia datang sebagai partikel halus di udara.
Lalu mengubah penerbangan, memaksa orang memakai masker, membuat anak-anak kembali membuka laptop di meja makan, dan mengubah rencana satu kota untuk memulai pekan.
Senin tetap datang.
Hanya saja kali ini, Jakarta menjalaninya dari balik jendela yang lebih rapat. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.