
PERNAHKAH Anda membayangkan nasi bungkus dengan bentuk menyerupai piramida Mesir?
Jika Anda pernah jalan-jalan ke Aceh, Anda mungkin sudah mengenal Bu Kulah, sebuah hidangan nasi bungkus khas Aceh yang memiliki keunikan tersendiri.
Dalam bahasa Aceh, “Bu Kulah” berarti nasi bungkus. Meskipun terdengar sederhana, Bu Kulah berbeda jauh dari nasi bungkus yang biasa kita temui di warung-warung makan.
Nasi bungkus ini dikemas menggunakan daun pisang yang telah diasapi, memberikan aroma dan kelembutan yang khas.
Bu Kulah dan Tradisi
Bu Kulah menggunakan nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang. Daun pisang ini terlebih dahulu diasapi untuk membuatnya lebih lentur dan tidak mudah patah saat dibungkus.
Proses pengasapan juga memberikan aroma harum pada daun pisang, yang membuat Bu Kulah semakin menggugah selera.
Bu Kulah telah menjadi bagian dari kultur masyarakat Aceh sejak lama. Hidangan ini sering jadi sajian pada acara-acara khusus seperti Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, jamuan makan tamu pemerintah, pesta adat perkawinan, dan kenduri religi.
Baca juga: Ayam Tangkap, Kuliner Khas Aceh yang Unik dan Penuh Cita Rasa
Meskipun proses pembuatan Bu Kulah tidak terlalu rumit, keunikannya terletak pada bentuknya yang menyerupai piramida dan rasanya yang khas.
Bu Kulah biasanya disajikan dengan lauk-pauk yang tidak terlalu banyak kuah, agar tidak mengurangi kelezatan nasi bungkus tersebut.

Menikmati Bu Kulah dan Maulid Nabi
Bu Kulah memberikan pengalaman makan yang memadukan tradisi dan rasa. Dengan aromanya yang harum dan rasa nasi yang lembut, hidangan ini menawarkan nuansa tradisional yang jarang ditemukan di tempat lain. Idealnya, pilihlah lauk yang tidak berkuah banyak untuk menjaga kelezatan Bu Kulah.
Pada hari perayaan Maulid Nabi, Bu Kulah disiapkan dan diantar ke meunasah (mushola) dan surau-surau di seluruh Aceh.
Baca juga: Keumamah: Ikan Kayu Khas Aceh, Kaya Rempah dan Tahan Lama
Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap anggota masyarakat dapat menikmati hidangan ini dalam suasana kebersamaan.
Tradisi ini melibatkan pengantaran Bu Kulah secara massal ke meunasah dan surau-surau di kampung-kampung.
Masyarakat berkumpul untuk makan siang bersama, menciptakan suasana kolosal di mana Bu Kulah menjadi pusat perhatian.
Baca juga: 7 Makanan Khas Aceh yang Wajib Dicoba Selama PON XXI
Selain mengeratkan tali silaturahmi, acara ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mempererat hubungan dengan sesama dan menyantap hidangan tradisional dalam suasana yang penuh berkah. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.