AI Jadi Senjata Baru Penipuan Siber, Begini Modus yang Harus Diwaspadai

Kemajuan AI kini bukan hanya membuka peluang, tapi juga melahirkan ancaman baru. Penipuan berbasis deepfake hingga chatbot membuat dunia maya kian berbahaya. Foto: Ilustrasi/ Anete Lusina/ Pexels.

DUNIA digital memasuki fase baru yang penuh risiko. Kecerdasan buatan (AI) yang semula dipuji sebagai teknologi produktif, kini justru dimanfaatkan penjahat siber untuk melancarkan aksi penipuan. Dari deepfake hingga chatbot asmara, semua dirancang makin canggih sehingga sulit dibedakan dari interaksi manusia asli.

Laporan terbaru Forbes menyebut, AI sudah menjadi “senjata global” bagi sindikat kejahatan siber. Dampaknya bukan hanya mengancam keamanan individu, tetapi juga sektor fintech, perbankan, hingga perusahaan multinasional.

Evolusi Penipuan BEC dengan Deepfake

Business Email Compromise (BEC) bukan barang baru, tapi kini levelnya meningkat tajam. Penipu memanfaatkan video dan audio deepfake untuk menyamar sebagai atasan perusahaan. Di Hong Kong, pegawai sebuah perusahaan bahkan tertipu panggilan Zoom palsu yang membuat dana senilai hampir Rp480 miliar berpindah tangan.

Baca juga: Deepfake Menyerang Dunia Digital Setiap 5 Menit

Data menunjukkan, 53% profesional akuntansi di Amerika Serikat pernah menjadi target serangan BEC. Lebih dari itu, 40% email palsu kini diproduksi sepenuhnya dengan AI.

Chatbot Asmara, Cinta yang Palsu

Penipuan asmara juga berevolusi. Bukan lagi manusia yang merayu, melainkan chatbot AI otonom. Dengan percakapan halus dan tanpa aksen, korban sulit membedakan apakah sedang berbicara dengan orang sungguhan atau mesin. Kasus ini sudah mencuat di media sosial, bahkan diakui pelaku kejahatan asal Nigeria dalam sebuah video testimoni.

Baca juga: Brad Pitt Palsu Gunakan AI, Perempuan Prancis Rugi Rp 14 Miliar

“Pig Butchering” Massal

Skema investasi palsu yang populer disebut pig butchering kini dijalankan secara massal dengan AI. Pesan-pesan manipulatif dikirim otomatis lewat platform media sosial untuk memancing percakapan awal, misalnya dengan kalimat sederhana: “Temanku merekomendasikan kamu. Apa kabar?”

Bukan hanya teks, pelaku juga menggunakan deepfake video call dan kloning suara untuk menambah kepercayaan korban.

Deepfake untuk Pemerasan Pejabat dan Eksekutif

Modus lain yang kian marak adalah pemerasan menggunakan video deepfake. Di Singapura, penjahat mengirim email berisi ancaman video palsu yang mencatut wajah pejabat pemerintah, sambil menuntut pembayaran dalam bentuk kripto bernilai puluhan ribu dolar.

Baca juga: AI Bisa Gantikan Dokter, tapi Menyerah pada Perawat dan Tukang Ledeng

Bahan bakunya sederhana, foto dan video publik dari LinkedIn, YouTube, hingga Instagram. Namun dengan perangkat lunak deepfake yang kini mudah diakses, hasilnya bisa sangat meyakinkan. Pakar menilai, praktik ini akan makin meluas menargetkan kalangan eksekutif, pejabat, hingga figur publik.

Masyarakat dan Korporasi Harus Waspada

Fenomena ini menjadi alarm serius. Keamanan siber tak lagi cukup dengan proteksi konvensional. Diperlukan literasi digital, sistem verifikasi berlapis, hingga kerja sama lintas negara untuk menghadang kejahatan berbasis AI.

Seperti diingatkan Forbes, dunia maya kini bukan sekadar ruang interaksi, melainkan arena pertarungan teknologi antara inovasi produktif dan manipulasi kriminal. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *