
Kota yang Terus Membuang
SETIAP hari kota menghasilkan sesuatu yang jarang dipikirkan kembali, sampah.
Sampah keluar dari rumah, pasar, kantor, restoran, dan pusat perbelanjaan. Dalam hitungan jam, ribuan ton limbah bergerak menjauh dari kehidupan kota. Truk-truk datang, mengangkutnya keluar, lalu kota kembali tampak bersih seperti semula.
Namun di ujung perjalanan itu, sampah tidak benar-benar hilang.
Sampah menumpuk.
Gunung yang Kita Bangun Sendiri
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang selama bertahun-tahun menjadi tujuan dari sebagian besar sampah Jakarta dan sekitarnya. Setiap hari, ribuan ton limbah ditambahkan ke tumpukan yang sudah tinggi.
Lama-kelamaan, tumpukan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pembuangan. Tumpukan itu menjadi gunung.
Baca juga: Aksara | Harga Sebuah Kursi
Gunung yang tidak terbentuk oleh alam, melainkan oleh kebiasaan manusia.
Ketika longsor terjadi dan menelan korban jiwa, kita diingatkan bahwa gunung itu tidak pernah benar-benar diam.

Orang-orang di Sekitar Gunung Sampah
Bagi sebagian orang, Bantar Gebang bukan sekadar tempat sampah. Itu adalah ruang hidup.
Di sana ada pemulung, pekerja pengelolaan limbah, dan keluarga yang menggantungkan penghidupan dari apa yang dibuang oleh kota.
Baca juga: Aksara | Ketika Plastik Menjadi Warisan
Di tempat yang bagi banyak orang hanya dianggap sebagai ujung dari sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan, mereka justru menemukan sumber kehidupan.
Ironisnya, risiko terbesar juga berada di tempat yang sama.
Cermin dari Gaya Hidup Kota
Tragedi di Bantar Gebang bukan hanya soal longsor. Itu adalah cermin dari cara kota memperlakukan sampahnya sendiri.
Selama sampah hanya dianggap sesuatu yang harus segera dibuang, persoalan ini akan terus berpindah tempat, dari rumah ke truk, dari truk ke tempat pembuangan.
Tetapi di ujungnya, selalu ada ruang yang menanggung semua yang kita tinggalkan.
Baca juga: Aksara | Buku yang Tak Terbeli
Gunung sampah tidak muncul dalam semalam. Tapi, tumbuh sedikit demi sedikit, dari kebiasaan yang terasa biasa.
Dan mungkin, setiap bencana yang terjadi di sana adalah pengingat bahwa apa yang kita buang tidak pernah benar-benar pergi jauh. ***
Salam literasi.
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA