Aksara: Ketika Bencana Tak Lagi Mengejutkan

Hujan di balik kaca, peristiwa yang berulang, rasa yang perlahan berubah. Foto: Ilustrasi/ Michaela St/ Pexels.
Hujan yang Sama, Rasa yang Berbeda

HUJAN turun seperti biasa. Sungai meluap seperti yang sudah-sudah. Air masuk ke rumah-rumah yang bahkan belum sempat benar-benar kering dari banjir sebelumnya. Berita datang lagi, foto-foto beredar lagi, angka korban bertambah lagi.

Yang terasa berbeda justru bukan hujannya.
Melainkan cara kita merasakannya.

Dulu satu bencana bisa membuat kita terpaku lama. Kini, di antara notifikasi yang tak pernah berhenti, kabar banjir sering lewat seperti lalu lintas informasi lainnya. Kita membaca, menghela napas sebentar, lalu menggulir layar.

Lelah Merasa di Tengah Banjir Berita

Bukan karena kita tidak peduli. Justru sebaliknya, kita mungkin terlalu sering dipaksa peduli. Setiap hari ada kabar duka, dari banjir, longsor, badai, hingga krisis di belahan dunia lain. Hati manusia, ternyata, juga punya batas lelah.

Baca juga: Empati yang Perlu Kita Evakuasi

Para peneliti menyebutnya compassion fatigue, kelelahan empati. Ketika paparan terus-menerus terhadap kabar buruk membuat kita perlahan mati rasa, bukan karena kejam, tetapi karena kewalahan.

Di sinilah literasi diuji. Apakah kita hanya menjadi penonton yang lewat, atau pembaca yang benar-benar hadir?

Empati Tidak Harus Selalu Dramatis

Kita tidak harus selalu menangis untuk membuktikan kepedulian. Empati tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan terlihat. Empati bisa berupa hal-hal kecil seperti tidak menyalahkan korban, tidak menjadikan bencana sekadar konten, dan memberi waktu pada diri sendiri untuk benar-benar memahami apa yang terjadi.

Baca juga: Aksara: Kita Tak Kehilangan Informasi, Kita Kehilangan Kejernihan

Membaca sampai tuntas, mencari konteks, dan tidak tergesa menyimpulkan, itu juga bentuk kepedulian.

Belajar Merasa Lagi

Bencana mungkin akan terus datang. Musim hujan akan tetap berulang. Sungai akan meluap lagi jika tata kelola tak berubah. Tapi, yang tidak boleh ikut hanyut adalah kepekaan kita.

Jika suatu hari kita merasa tak lagi terkejut oleh kabar banjir, mungkin itu bukan tanda bahwa bencana menjadi ringan, melainkan tanda bahwa hati kita sedang butuh dirawat.

Baca juga: Aksara: Kita Banyak Bicara tentang Kebenaran, Sedikit yang Mencarinya

Dan merawat empati bisa dimulai dari hal paling sederhana, berhenti sejenak, membaca dengan sungguh-sungguh, dan mengingat bahwa di balik setiap angka, ada manusia yang sedang berusaha pulang ke rumah yang tak lagi sama.

Salam literasi.

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *