Aksara | Ketika Plastik Menjadi Warisan

Dari laut hingga tubuh, jejak plastik sering kali tak terlihat. Foto: Ilustrasi/ Catherine Sheila/ Pexels.
Ruang yang Kita Anggap Steril

SELAMA ini kita membayangkan rahim sebagai ruang paling aman. Tempat kehidupan dimulai dalam perlindungan. Dalam kesenyapan yang steril.

Namun, penelitian terbaru Ecoton Foundation bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Laboratorium FTIR UIN Sunan Ampel Surabaya menemukan mikroplastik dalam air ketuban 42 ibu melahirkan di Gresik, Jawa Timur.

Angka itu bukan untuk menakut-nakuti.
Itu adalah penanda.

Bahwa apa yang kita buang, gunakan, dan konsumsi, tidak benar-benar pergi jauh.

Jejak yang Tak Terlihat

Dari hasil penelitian, 40,5 persen partikel yang ditemukan berjenis polyethylene (PE), bahan yang umum kita jumpai pada kantong kresek, botol plastik, dan kemasan sekali pakai.

Sisanya terdiri dari polyisobutylene, polyphenylene sulfide, PET-like, dan polypropylene, semuanya bagian dari kehidupan modern yang kita anggap biasa.

Baca juga: Aksara | Buku yang Tak Terbeli

Mikroplastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik dapat terbentuk dari degradasi plastik akibat panas, sinar ultraviolet, dan gesekan. Mikroplastik masuk ke tubuh melalui udara, air, dan makanan.

Kita tidak melihatnya.
Tapi tubuh mungkin menyimpannya.

Peneliti menyebut adanya korelasi antara partikel plastik dengan peningkatan Malondialdehide (MDA), penanda peradangan yang dapat memengaruhi perkembangan janin. Temuan ini belum menjadi vonis akhir, tetapi cukup menjadi sinyal bahwa persoalan ini tidak sepele.

Warisan yang Tak Kita Sadari

Plastik adalah simbol kemudahan. Ringan, murah, praktis. Kita membawanya pulang hampir setiap hari.

Namun di balik kemudahan itu, ada jejak yang sulit dihapus. Mikroplastik tak hanya ditemukan di air ketuban. Sejumlah studi menyebut partikel serupa telah terdeteksi di darah, paru-paru, plasenta, bahkan otak manusia.

Kita hidup di era plastik.
Dan generasi berikutnya lahir di dalamnya.

Baca juga: Aksara | Ketika Angka Tak Lagi Tenang

Ini bukan tentang menyalahkan ibu hamil. Bukan pula tentang menciptakan ketakutan baru. Ini tentang menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan lagi sekadar isu laut atau sungai. Tapi, telah masuk ke ruang paling awal kehidupan.

Pilihan yang Masih Bisa Diubah

Kesadaran tidak harus lahir dari kepanikan. Tapi, juga bisa lahir dari keputusan kecil, seperti mengurangi plastik sekali pakai, memilih kemasan yang lebih aman, mendorong kebijakan pengelolaan sampah yang lebih tegas.

Mikroplastik mungkin sudah menjadi bagian dari realitas kita. Tetapi, cara kita meresponsnya masih bisa ditentukan.

Baca juga: Aksara: Kita Banyak Bicara tentang Kebenaran, Sedikit yang Mencarinya

Warisan bukan hanya soal tanah dan bangunan.
Warisan juga tentang lingkungan yang kita tinggalkan.

Dan mungkin, dari ruang yang paling sunyi dalam tubuh manusia, kita sedang diingatkan bahwa kebiasaan kecil hari ini bisa menjadi cerita besar esok hari. ***

Salam literasi.

Catatan Redaksi
  • Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu, yakni membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *