
AIR minum dalam kemasan sudah jadi bagian hidup sehari-hari. Dibeli di minimarket. Disimpan di tas. Dibuka saat haus datang tiba-tiba. Praktis. Aman. Atau setidaknya, itu yang selama ini kita yakini.
Tapi, bagaimana jika air yang kita minum setiap hari ternyata membawa sesuatu yang tak pernah kita sadari?
Sejumlah temuan ilmiah terbaru mulai membuka sisi lain dari kebiasaan minum air kemasan. Bukan soal rasa. Bukan juga soal merek. Melainkan soal mikroplastik, partikel plastik superkecil yang bisa ikut tertelan bersama air.
Air Minum yang Tak Lagi Sederhana
Sebuah tinjauan ilmiah internasional menemukan bahwa orang yang rutin mengonsumsi air minum dalam botol plastik bisa menelan puluhan ribu partikel mikroplastik setiap tahun. Jumlahnya jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang lebih sering minum air keran.
Baca juga: 18 Kota di Indonesia Terpapar Mikroplastik Udara
Rata-rata manusia diperkirakan menelan 39.000 hingga 52.000 partikel mikroplastik per tahun dari berbagai sumber. Namun, pada konsumen air kemasan, angka itu melonjak drastis. Sementara pada peminum air keran, paparannya jauh lebih rendah.
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil, bahkan ada yang lebih tipis dari rambut manusia. Karena ukurannya, partikel ini mudah masuk ke tubuh lewat air, makanan, dan udara.
Dari Botol ke Tubuh
Peneliti dari Universitas Concordia di Kanada menjelaskan bahwa botol plastik bisa melepaskan mikroplastik sejak awal siklus hidupnya. Mulai dari proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga saat botol terpapar panas dan sinar matahari.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Botol yang terlihat utuh ternyata bisa perlahan terdegradasi. Partikel kecilnya larut ke dalam air. Tanpa warna. Tanpa rasa. Tanpa bau.
Baca juga: Hati-hati, Panas Bisa Bikin Mikroplastik Masuk ke Tubuhmu
Sarah Sajedi, penulis utama studi yang dipublikasikan dalam Journal of Hazardous Materials (November 2025), menyebut air kemasan seharusnya menjadi pilihan darurat, bukan konsumsi harian. Minum sesekali dinilai tak bermasalah. Tapi jika dilakukan setiap hari, risikonya patut dipikirkan ulang.
Kenapa Ini Jadi Masalah?
Masalahnya, mikroplastik tidak selalu berhenti di saluran pencernaan. Sejumlah penelitian menunjukkan partikel ini berpotensi masuk ke aliran darah dan menjangkau organ penting.
Baca juga: Mikroplastik Bikin Panen Asia Anjlok, 400 Juta Orang Terancam Lapar
Dampak yang sedang diteliti mencakup peradangan kronis, gangguan hormon, stres sel, hingga masalah kesehatan jangka panjang. Meski para ilmuwan masih mengkaji efek pastinya, satu hal mulai jelas, yakni mikroplastik bukan benda netral.
Lalu, Harus Bagaimana?
Para peneliti menilai solusi tidak bisa dibebankan ke individu semata. Masalah ini terkait sistem. Akses air minum yang aman. Infrastruktur air bersih. Kepercayaan publik terhadap air non-kemasan.
Baca juga: Perang Bali Lawan Plastik Dimulai dari Botol
Di beberapa daerah, hotel dan kawasan wisata bahkan mulai mengurangi atau melarang botol plastik sekali pakai. Tujuannya sederhana: memutus ketergantungan pada plastik.
Isu mikroplastik mengajukan pertanyaan yang sederhana tapi mengganggu, apa yang sebenarnya kita minum setiap hari?
Jawabannya mungkin tak terlihat. Tapi, dampaknya bisa sangat nyata. ***
Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.