
KRISIS pangan di Afrika Barat dan Tengah makin serius. Program Pangan Dunia PBB (WFP) memperingatkan sekitar 55 juta orang di kawasan ini berisiko mengalami kelaparan tingkat krisis tahun ini.
Masalahnya datang dari banyak arah sekaligus. Konflik bersenjata belum berhenti. Cuaca makin ekstrem. Tapi bantuan internasional justru menyusut.
Empat Negara Paling Terpukul
Empat negara jadi pusat tekanan terbesar, Nigeria, Chad, Kamerun, dan Niger. Negara-negara ini menyumbang sekitar 77 persen dari total kerawanan pangan di kawasan tersebut. Di Nigeria, situasinya paling mengkhawatirkan. Sekitar 15.000 orang kini berada di ambang kelaparan ekstrem, kondisi yang jarang terlihat dalam hampir satu dekade terakhir.
Baca juga: Ancaman Baru bagi Jutaan Nyawa Akibat Keputusan AS
Konflik masih jadi pemicu utama. Aktivitas kelompok bersenjata membuat warga sulit bertani, kehilangan lahan, dan terpaksa mengungsi. Jalur distribusi makanan juga sering terganggu. Saat keamanan runtuh, pasokan pangan ikut goyah.
Iklim Bikin Panen Makin Gagal
Di saat yang sama, krisis iklim memperparah keadaan. Pertanian adalah sumber hidup utama di Afrika Barat dan Tengah. Sekitar 60 persen penduduknya bergantung pada sektor ini. Tapi cuaca kini makin sulit ditebak.

Sepanjang 2025, hujan ekstrem dan banjir besar berdampak pada lebih dari 841.000 orang di kawasan tersebut. Nigeria dan Niger termasuk yang paling parah terdampak. Lahan rusak, panen gagal, harga pangan naik. Bagi keluarga miskin, ini berarti makin sulit makan setiap hari.
Baca juga: Mikroplastik Bikin Panen Asia Anjlok, 400 Juta Orang Terancam Lapar
Bantuan Turun, Risiko Naik
Ironisnya, ketika kebutuhan bantuan meningkat, pendanaan global justru menurun. WFP pada 2025 hanya menerima sekitar 41 persen dari total dana yang dibutuhkan untuk Afrika Barat dan Tengah. Dalam enam bulan ke depan, badan ini masih membutuhkan ratusan juta dolar agar bisa terus menyalurkan bantuan darurat.
“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menghentikan bantuan pangan,” kata David Stevenson dari WFP Nigeria. Menurutnya, pemotongan bantuan bisa memicu dampak kemanusiaan, ekonomi, bahkan keamanan yang lebih luas. Orang-orang yang kelaparan bisa terpaksa pindah dalam jumlah besar demi mencari makanan dan tempat aman.
Baca juga: Pangan Dunia Tersandera 9 Tanaman, Alarm Bahaya dari FAO
Dampaknya sudah terasa. Di Nigeria, WFP memperkirakan hanya mampu membantu 72.000 orang dalam waktu dekat. Padahal tahun lalu, mereka bisa menjangkau lebih dari 1 juta orang saat musim paceklik. Di negara tetangga seperti Kamerun, jumlah penerima bantuan juga dipangkas drastis.
Krisis ini menunjukkan satu hal penting: masalah pangan bukan cuma soal makanan. Ini soal iklim, konflik, dan keputusan politik global. Ketika bantuan dikurangi saat risiko meningkat, jutaan orang jadi pihak yang paling menanggung dampaknya. ***
Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.