Belanja Online Makin Pintar, AI Jadi “Asisten” Baru Konsumen Indonesia

Kecerdasan buatan kini menjadi “asisten belanja” baru, membantu konsumen memilih produk hingga mengambil keputusan di platform e-commerce. Foto: AI-generated/ Mulamula.id.

JAKARTA, mulamula.id Cara orang Indonesia belanja online sedang berubah. Bukan lagi sekadar klik dan checkout. Kini, banyak yang “berkonsultasi” dulu dengan kecerdasan buatan atau AI.

Data terbaru menunjukkan tren ini makin kuat. Konsumen tidak hanya melihat harga. Mereka mulai meminta AI membantu memilih, membandingkan, hingga memutuskan.

AI Jadi Teman Cari Produk

Riset gabungan YouGov dan Visa mencatat, 82% konsumen Indonesia sudah memakai AI saat berbelanja online. Fungsinya beragam. Mulai dari membandingkan harga, mencari informasi produk, hingga melacak pesanan.

Angka ini bahkan diproyeksikan melonjak hingga 95% dalam waktu dekat. Artinya, AI bukan lagi fitur tambahan. Tapi, sudah menjadi bagian dari proses belanja.

Baca juga: Apakah SEO akan Bertahan di Era AI Search?

Namun, penggunaannya masih dominan di tahap awal. Sekitar 74% konsumen memakai AI hanya untuk mencari informasi, belum sampai ke keputusan akhir.

Antara Praktis dan Rasa Waswas

Meski terlihat antusias, konsumen Indonesia belum sepenuhnya percaya. Hanya 32% yang benar-benar terbuka pada sistem pembelian berbasis AI. Sisanya masih berhati-hati, terutama soal data pribadi.

Sekitar sepertiga responden mengaku belum nyaman membagikan informasi sensitif tanpa jaminan keamanan yang jelas.

Bacxa juga: AI Mulai Dikunci, Pemerintah Pastikan Mesin Tak Bisa Jalan Sendiri

Pola ini berbeda dengan beberapa negara berkembang lain seperti India dan Vietnam. Di sana, tingkat keterbukaan terhadap AI commerce sudah mencapai 42%.

Di Indonesia, kecepatan adopsi berjalan berdampingan dengan kebutuhan akan rasa aman.

Belanja Lebih Personal

Di sisi lain, riset Lazada dan Kantar memperlihatkan dampak AI yang lebih dalam. Sebanyak 88% konsumen Asia Tenggara kini mengambil keputusan belanja berdasarkan rekomendasi AI.

Bahkan, 92% mengandalkan AI untuk menemukan produk yang relevan. Sementara 90% menggunakan AI untuk membaca ringkasan produk yang sudah disesuaikan dengan preferensi mereka.

Ini mengubah cara kerja e-commerce. Platform tidak lagi sekadar menampilkan katalog. Mereka “mengenal” pengguna dan menawarkan pilihan yang terasa personal.

Fitur Sudah Ada, tapi Belum Maksimal

Menariknya, banyak konsumen sebenarnya sudah familiar dengan fitur AI. Chatbot dikenal oleh 63% pengguna. Disusul terjemahan otomatis (53%) dan pencarian visual (52%).

Namun, tingkat penggunaan masih di bawah 50%. Chatbot digunakan oleh 47%, sementara pencarian visual dan terjemahan otomatis masing-masing sekitar 40%.

Baca juga: AI Baru Google Bantu UMKM Bikin Konten Promosi dalam Hitungan Menit

Artinya, awareness tinggi belum otomatis berujung pada penggunaan aktif. Ada gap antara tahu dan benar-benar percaya.

Arah Baru E-Commerce

Perubahan ini menandai fase baru dalam industri digital. AI tidak lagi sekadar alat bantu. Ia mulai menjadi “co-pilot” dalam perjalanan belanja.

Di saat yang sama, isu keamanan akan menjadi penentu utama. Konsumen ingin kemudahan, tapi tidak mau kehilangan kontrol.

Pemain industri pun mulai merespons. Mereka menghadirkan fitur pembayaran lebih aman, autentikasi berlapis, hingga sistem AI yang lebih transparan.

Sinyalnya jelas, masa depan e-commerce bukan hanya soal cepat dan murah. Tapi juga soal cerdas, personal, dan aman. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *