COP31 Masih Ngambang, COP32 Sudah Punya Rumah di Addis Ababa

Langit senja di Addis Ababa, Ethiopia, mewarnai gedung-gedung pencakar langit kota yang tengah bersiap menjadi tuan rumah COP32 tahun 2027. Penunjukan ini sekaligus menandai kembalinya Afrika ke panggung utama diplomasi iklim global. Foto: Christian Alemu/Pexels.

SEMENTARA dunia menatap hutan Amazon untuk COP30, kabar baru datang dari benua lain. Ethiopia resmi ditunjuk jadi tuan rumah COP32 tahun 2027.

Lucunya, meski konferensi dua tahun lagi sudah punya alamat pasti, COP31 tahun depan justru masih belum jelas siapa yang bakal jadi tuan rumahnya.

Afrika Kembali ke Panggung Dunia

Presiden COP30, Ana Toni, menyampaikan kepada Reuters bahwa Addis Ababa akan menjadi tuan rumah KTT iklim dunia berikutnya setelah 2026.

Ethiopia sebelumnya bersaing dengan Nigeria, tapi akhirnya mendapat dukungan bulat dari Dewan Negara-Negara Afrika.

Baca juga: COP30 Dimulai: Harapan, Janji, dan Ujian di Jantung Hutan Amazon

Langkah ini sekaligus menandai kembalinya Afrika ke panggung utama diplomasi iklim global — setelah terakhir kali menjadi tuan rumah di Mesir lewat COP27 tahun 2022.

COP31, Antara Australia dan Turki

Sementara itu, perebutan tuan rumah COP31 tahun 2026 masih berlangsung sengit.
Australia maju bersama negara-negara Kepulauan Pasifik, membawa pesan solidaritas bagi wilayah yang paling terdampak krisis iklim.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Turki tak mau kalah. Negara lintas benua itu menonjolkan posisinya sebagai jembatan antara Asia dan Eropa, serta menyerukan transisi energi yang adil bagi negara berkembang.

Baca juga: Metana Jadi Musuh Baru Bumi, Indonesia Ambil Peran di Garis Depan

Kalau tak ada kesepakatan, COP31 bisa saja “terdampar” di Bonn, Jerman, tempat kantor pusat UNFCCC berada.

Bukan Sekadar Ajang, tapi Arah Dunia

Bagi banyak pihak, COP bukan cuma forum lingkungan. Ini juga ajang menakar arah diplomasi global, siapa yang memimpin, siapa yang didengar, dan siapa yang masih berjuang mencari tempat di meja negosiasi.

Australia ingin memperkuat peran Indo-Pasifik, Turki ingin memperluas pengaruh geopolitik, dan Ethiopia ingin membawa suara Afrika ke level global. Semua punya narasi, semua ingin jadi wajah masa depan dunia hijau. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *