Cuaca Ekstrem, Pelayaran ke Komodo Ditutup Sementara

Sejumlah kapal wisata berlabuh di perairan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Pelayaran ditutup sementara akibat potensi cuaca ekstrem dan gelombang swell. Foto: Rizk Nas/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.idLangit cerah tak selalu berarti laut aman. Di Labuan Bajo, gelombang justru menyimpan ancaman.

Otoritas pelabuhan menutup sementara pelayaran menuju Pulau Komodo dan Pulau Padar. Langkah ini diambil menyusul cuaca ekstrem dan kecelakaan kapal wisata yang masih menyisakan korban hilang.

Penutupan diumumkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo.
Larangan berlaku untuk kapal wisata maupun kapal lain dengan tujuan Padar–Komodo.

“Pada waktu tertentu muncul gelombang swell yang tinggi dan datang tiba-tiba,” ujar Kepala KSOP Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto.

Keselamatan Jadi Prioritas

Keputusan penutupan bukan semata administratif. Keselamatan jadi pertimbangan utama.

Selain potensi cuaca ekstrem, larangan berlayar juga dimaksudkan untuk mempermudah operasi pencarian dan penyelamatan.

Empat warga negara Spanyol masih hilang sejak kapal wisata KM Putri Sakinah tenggelam di Perairan Pulau Padar, Jumat malam (26/12).

Baca juga: Bali Belum Sentuh Target, Wisata Domestik Mulai Melirik Jawa

Dalam Notice to Mariner (NtM) yang dikeluarkan KSOP, seluruh kapal diimbau mematuhi prakiraan cuaca BMKG hingga 1 Januari 2026. Gelombang tinggi, arus kuat, dan angin kencang masih berpotensi terjadi.

Para nakhoda diminta memastikan kelaiklautan kapal, berlabuh di area terlindung, dan segera berkoordinasi dengan syahbandar maupun Basarnas jika kondisi memburuk.

Pelayanan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) menuju Padar–Komodo pun dihentikan sementara. Pelayaran baru dibuka kembali setelah cuaca dinyatakan aman.

Kapal Tenggelam, Empat WNA Masih Dicari

KM Putri Sakinah mengangkut 11 orang. Tujuh penumpang selamat, termasuk dua wisatawan Spanyol.

Namun empat lainnya masih belum ditemukan. Mereka adalah satu keluarga asal Spanyol yang diidentifikasi sebagai Fernando Martín Carreras, pelatih klub sepakbola Valencia B.

Tim SAR gabungan terus memperluas area pencarian. Radius penyisiran diperluas hingga 5,25 nautical mile dari lokasi kejadian.

Berbagai armada dikerahkan.
Mulai dari kapal Basarnas, KSOP, Ditpolairud Polda NTT, hingga TNI AL.

Pencarian memasuki hari ketiga. Harapan tetap dijaga, meski laut belum sepenuhnya bersahabat.

Swell Laut, Ancaman yang Tak Terlihat

BMKG menjelaskan, kondisi berbahaya ini dipicu bibit siklon 96S. Fenomena tersebut muncul sejak 25 Desember 2025.

Yang paling berisiko bukan angin kencang, melainkan gelombang swell, gelombang kiriman dari pusat badai. Swell bisa datang tiba-tiba, bahkan saat cuaca terlihat tenang.

“Di perairan sempit seperti kepulauan NTT, punggung gelombang bisa meninggi dan berbahaya,” jelas Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Seran.

Hingga akhir tahun, tinggi gelombang di wilayah selatan Labuan Bajo diperkirakan mencapai 1,25–2,5 meter. Kondisi bisa memburuk saat hujan disertai petir.

BMKG mengimbau wisatawan dan pelaku pelayaran rutin memantau informasi resmi. Liburan akhir tahun tetap bisa dinikmati, asal keselamatan tidak dikompromikan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *