Di Tengah Riuh Informasi, Pers Masih Dibutuhkan

Di tengah arus digital yang kian padat, kerja jurnalistik menuntut kolaborasi, ketelitian, dan kejernihan berpikir. Foto: Ilustrasi/ Pexels.

Oleh: Hamdani S Rukiah

MEDIA sering disebut sedang sekarat. Oplah turun. Iklan pindah ke platform digital. Algoritma menentukan apa yang muncul di layar kita. Di tengah arus itu, pertanyaan lama muncul kembali, apakah media mainstream masih punya masa depan?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Yang runtuh hari ini bukan jurnalisme. Yang runtuh adalah cara lama memproduksi dan mendistribusikan informasi. Media tidak lagi menjadi satu-satunya pintu masuk bagi publik untuk mengetahui dunia. Peran itu kini diperebutkan oleh media sosial, influencer, dan platform digital yang hidup dari perhatian.

Masalahnya, perhatian bukan kebenaran.

Bukan Krisis Jurnalisme, tapi Cara Lama

Kita hidup di era ketika informasi datang tanpa henti. Setiap detik ada kabar baru. Setiap menit ada opini. Setiap jam ada emosi yang diproduksi dan disebarkan. Publik tidak kekurangan informasi. Yang justru langka adalah kejelasan.

Di titik inilah pers seharusnya berdiri.

Bukan sebagai yang paling cepat. Bukan sebagai yang paling ramai. Tetapi sebagai yang paling bisa dipercaya ketika semua terasa bising. Pers hadir bukan untuk menambah riuh, melainkan menyaringnya.

Media Mengecil, Kepercayaan Menguat

Realitasnya, media mainstream memang tidak akan kembali seperti dulu. Tidak lagi besar secara jumlah pembaca. Tidak lagi dominan dalam semua isu. Tidak lagi hidup nyaman dari iklan massal. Era itu sudah selesai.

Namun justru di situlah peluangnya.

Media ke depan akan mengecil secara kuantitas, tetapi menguat secara kualitas. Pembaca tidak lagi datang setiap hari. Kepercayaan hadir secara episodik, yakni saat publik bingung, lelah, atau butuh pegangan. Saat itulah pers diuji.

Gen Z dan Ujian Kejujuran Media

Generasi muda sering disalahpahami sebagai musuh media. Padahal mereka hanya selektor yang lebih kejam. Mereka cepat bosan, alergi kepalsuan, dan tidak segan meninggalkan kanal yang terasa kosong. Mereka tidak loyal pada merek, tetapi pada nilai.

Baca juga: Di Tengah Riuh Media Sosial, Publik Tetap Percaya Pers

Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di platform sosial. Tapi ketika isu menjadi penting, soal masa depan, kebijakan, krisis, atau kebenaran, mereka tetap mencari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Itu sebabnya pers masih dibutuhkan.

Bukan pers yang mengejar viral. Bukan pers yang meniru gaya influencer. Bukan pers yang hanya mengulang apa yang sedang ramai. Melainkan pers yang berani memilih. Memilih topik, memilih sudut pandang, dan memilih untuk tetap menjaga akal sehat publik.

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momen untuk jujur. Tidak semua media akan bertahan. Dan itu tidak apa-apa. Yang penting, yang bertahan adalah mereka yang tahu untuk siapa mereka bekerja, dan mengapa mereka ada.

Pers tidak harus menjadi yang paling keras di tengah riuh informasi.
Cukup menjadi yang paling jernih.

Dan selama publik masih membutuhkan kejernihan, pers akan selalu punya tempat. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *