Gempa 7,6 Guncang Maluku, Sistem Tektonik Ganda Jadi Pemicu

Peta pusat gempa magnitudo 7,6 di Laut Maluku yang dirilis BMKG, menunjukkan wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi akibat sistem subduksi ganda. Foto: BMKG.

JAKARTA, mulamula.idGempa berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara bukan sekadar peristiwa alam biasa. Di balik guncangan itu, ada mekanisme geologi kompleks yang menjadikan kawasan ini salah satu titik paling aktif di Indonesia.

Ahli gempa dan tsunami, Daryono, menjelaskan bahwa gempa ini berkaitan erat dengan kondisi tektonik unik di Laut Maluku. Wilayah ini bukan hanya aktif, tetapi juga “berlapis risiko”.

Dua Lempeng Saling Menekan

Laut Maluku berada di zona yang disebut double subduction system. Artinya, ada dua lempeng bumi yang sama-sama bergerak dan saling menekan dari arah berlawanan.

Di sisi barat, lempeng Laut Maluku menunjam ke bawah Busur Sangihe. Di sisi timur, lempeng yang sama juga terdorong ke bawah Busur Halmahera. Situasi ini menciptakan tekanan luar biasa di kerak bumi.

Akibatnya, energi terus menumpuk, dan ketika dilepaskan, terjadilah gempa besar seperti yang terjadi kemarin.

Mekanisme Sesar Naik

Gempa ini dipicu oleh mekanisme thrust fault atau sesar naik. Ini terjadi ketika tekanan horizontal mendorong satu bagian batuan naik ke atas bagian lainnya.

Dalam konteks Laut Maluku, pergeseran ini bisa terjadi di dua lokasi sekaligus. Di batas antar-lempeng (megathrust) maupun di dalam lempeng yang sedang tersubduksi.

Singkatnya, bukan hanya satu sumber gempa, tetapi bisa banyak titik aktif dalam satu sistem.

Risiko Tsunami Nyata

Yang membuat gempa jenis ini lebih berbahaya adalah potensi tsunami.

Sesar naik mampu mengangkat dasar laut secara vertikal. Jika pergeseran cukup besar dan terjadi di kedalaman dangkal, maka air laut di atasnya ikut terdorong, memicu gelombang tsunami.

Itulah sebabnya gempa di kawasan ini selalu dipantau ketat, terutama dalam beberapa jam pertama setelah kejadian.

Mitigasi Tak Bisa Ditunda

Pemahaman tentang karakter gempa di Laut Maluku bukan sekadar urusan ilmiah. Ini soal keselamatan.

Wilayah Indonesia timur berada di jalur cincin api Pasifik, dengan aktivitas tektonik yang tinggi. Tanpa mitigasi yang kuat, mulai dari sistem peringatan dini hingga edukasi masyarakat, risiko korban akan selalu besar.

Gempa 7,6 ini kembali mengingatkan satu hal, Indonesia hidup di atas sistem bumi yang aktif. Dan kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan keharusan. ***


Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *