
JAKARTA, mulamula.id – Di tengah padatnya kawasan Kuningan yang dipenuhi gedung tinggi dan lalu lintas yang nyaris tak pernah berhenti, ada satu tempat yang terasa seperti “tersembunyi”. Bukan sekadar kafe, melainkan ruang yang lebih menyerupai hutan kecil di tengah kota.
Namanya Hakon Ethnic.
Begitu masuk, suasana langsung berubah. Udara terasa lebih lembap. Hijau mendominasi pandangan. Tanaman tidak hanya jadi dekorasi, tapi membentuk ruang. Bertingkat. Menyatu dengan bangunan. Seolah membawa pengunjung keluar dari Jakarta, tanpa benar-benar pergi jauh.
Ruang yang Tidak Biasa
Hakon Ethnic berdiri di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dari luar, tempat ini mungkin tidak terlalu mencolok. Tapi begitu melangkah ke dalam, pengalaman yang ditawarkan terasa berbeda.
Kafe ini memiliki tiga lantai. Setiap lantai dirancang dengan konsep semi-indoor yang dipenuhi tanaman hidup. Cabang, daun, dan tanaman gantung membentuk lapisan visual yang membuat ruang terasa seperti hutan mini.
Baca juga: Hotel Setipis Ini Ada di Salatiga, View-nya Langsung Gunung
Bukan sekadar estetik untuk foto. Tapi benar-benar menciptakan suasana.
Lantai dua dan tiga menjadi titik paling menarik. Area ini terbuka, sejuk, dan penuh vegetasi. Cocok untuk duduk lama. Entah sekadar ngobrol, bekerja, atau menikmati waktu sendiri.

Seni Bertemu Kopi
Hal lain yang membuat Hakon berbeda adalah kolaborasinya dengan galeri milik seniman F. Widayanto.
Di lantai pertama, pengunjung langsung disambut berbagai karya seni. Mulai dari keramik, patung, hingga pahatan kayu dan kain tradisional. Area ini bukan hanya pajangan. Tapi, juga bagian dari pengalaman.
Baca juga: Dulu Rumah Kelelawar, Kini Jadi Spot Heritage Keren di Solo
Pengunjung bisa melihat, membeli, bahkan mengikuti kelas tembikar.
Kafe ini seperti menyatukan tiga hal sekaligus. Tempat makan, ruang seni, dan ruang pengalaman.

Matcha Jadi Identitas
Meski visualnya kuat, Hakon tidak berhenti di konsep ruang saja. Mereka juga membawa identitas yang cukup spesifik, matcha.
Hakon mengklaim sebagai “The Largest Matcha Place in Southeast Asia”. Klaim ini diperkuat dengan penggunaan matcha ceremonial-grade yang didatangkan langsung dari Kyoto, Jepang.
Baca juga; Serasa di Nepal, Padahal di Magelang: Ini Dia Nepal Van Java
Ada tiga pilihan utama:
Matcha No.65 yang lebih pahit dan bold.
Matcha No.75 yang lebih umami dan creamy.
Matcha No.96 yang lebih seimbang di antara keduanya.
Salah satu yang direkomendasikan adalah Matcha No.75 dengan metode cold whisk. Rasanya lebih lembut, sedikit manis, dan cocok untuk pemula maupun penikmat matcha.

Tempat Kabur di Tengah Kota
Harga menu di Hakon berkisar Rp40 ribu hingga Rp100 ribu. Tidak terlalu murah, tapi sebanding dengan pengalaman yang ditawarkan.
Lebih dari sekadar tempat makan, Hakon Ethnic terasa seperti “pelarian kecil” dari ritme kota yang cepat.
Baca juga: ‘Microtrip’ Internasional Jadi Tren, Gen Z Liburan Tanpa Cuti Panjang
Tempat ini cocok untuk banyak hal. Ngopi santai. Meeting kecil. Kerja dari kafe. Atau sekadar duduk tanpa tujuan.
Di tengah Jakarta yang semakin padat, ruang seperti ini menjadi langka.
Dan mungkin, itu yang membuat Hakon terasa berbeda. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.