
MALANG, mulamula.id – Masalah sampah di kota-kota besar tak lagi bisa ditunda. Di Malang Raya, volumenya bahkan sudah mendekati 2.000 ton per hari. Angka itu kini mendorong perubahan besar, sampah tak lagi sekadar dibuang, tapi mulai diproses menjadi energi listrik.
Langkah awal itu terlihat saat Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, meninjau langsung calon lokasi pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Peninjauan ini bukan sekadar formalitas. Pemerintah pusat sedang memastikan apakah lokasi tersebut benar-benar layak secara teknis dan lingkungan sebelum proyek dijalankan.
Teknis Jadi Penentu
Dalam tinjauan awal, sejumlah faktor krusial diperiksa. Mulai dari kapasitas lahan, akses jalan, ketersediaan air, hingga koneksi ke jaringan listrik.
Menurut Hanif, semua aspek itu menentukan apakah proyek bisa berjalan efisien atau justru berisiko di kemudian hari.
Baca juga: Sampah Jadi Listrik, Bekasi dan Denpasar Jadi Proyek Awal Waste-to-Energy
Jika hasil assessment dinyatakan memenuhi syarat, pemerintah pusat akan melanjutkan ke tahap berikutnya. Termasuk penerbitan keputusan resmi dan proses pengadaan proyek.
Artinya, proyek ini masih dalam tahap seleksi ketat. Belum final, tapi sudah bergerak serius.
Tekanan Sampah Nyata
Urgensi proyek ini terlihat dari data timbulan sampah di Malang Raya.
Total sampah mencapai sekitar 1.947 ton per hari. Rinciannya, Kota Malang menyumbang sekitar 731 ton, Kabupaten Malang hampir 1.094 ton, dan Kota Batu sekitar 122 ton per hari.
Dari jumlah itu, sekitar 1.038 ton per hari ditargetkan bisa diolah melalui fasilitas PSEL.
Ini bukan angka kecil. Ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari total sampah berpotensi diubah menjadi energi.
Dari Beban Jadi Energi
Selama ini, sampah identik dengan beban kota. Menumpuk di TPA, memicu polusi, hingga memakan lahan.
Melalui PSEL, pendekatan itu mulai diubah. Sampah diposisikan sebagai sumber energi baru.
Baca juga: Longsor Sampah Bantar Gebang, Alarm Keras Krisis Pengelolaan Sampah Jakarta
Bupati Malang, Sanusi, menyatakan kesiapan daerahnya untuk mendukung proyek ini. Lahan sudah disiapkan. Pemerintah daerah kini menunggu keputusan pusat.
Jika terealisasi, proyek ini tidak hanya mengurangi sampah. Tapi juga berpotensi memasok listrik, termasuk untuk kebutuhan industri di wilayah Malang.
Dorongan Nasional
Proyek PSEL di Malang bukan berdiri sendiri. Ini bagian dari dorongan nasional untuk mempercepat pengolahan sampah berbasis energi.
Instruksi ini datang langsung dari Prabowo Subianto, yang menargetkan solusi konkret atas persoalan sampah perkotaan.
Baca juga: Tas Kece dari Karton Susu, Popsiklus Tunjukkan Sampah Bisa Keren
Pendekatannya jelas. Sampah harus diselesaikan, tapi sekaligus dimanfaatkan.
Dengan kata lain, krisis sampah tidak hanya diatasi, tapi diubah menjadi peluang energi.
Ujian Eksekusi
Namun, tantangan sebenarnya belum dimulai.
PSEL bukan sekadar proyek teknologi. PSEL menyentuh banyak aspek. Mulai lingkungan, sosial, pembiayaan, hingga penerimaan masyarakat.
Jika berjalan baik, Malang bisa menjadi model baru pengelolaan sampah di Indonesia.
Baca juga: 2029 Bebas Sampah, Kota yang Gagal Dapat Label Kota Kotor
Jika tidak, proyek ini berisiko menjadi tambahan daftar panjang solusi yang tak pernah benar-benar selesai.
Untuk saat ini, satu hal sudah jelas, arah kebijakan mulai berubah.
Sampah tidak lagi dilihat sebagai akhir. Tapi, sebagai awal dari energi baru. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.