Hotel Setipis Ini Ada di Salatiga, View-nya Langsung Gunung

Pitu Rooms berdiri menyelip di tengah permukiman warga Kota Salatiga. Lebarnya hanya sekitar 2,8 meter, menjadikannya salah satu hotel paling ramping yang ada di Indonesia. Foto: Hamdani S Rukiah/ Mulamula.

DI TENGAH permukiman padat Kota Salatiga, berdiri sebuah bangunan yang sekilas tampak mustahil disebut hotel. Lebarnya hanya sekitar 2,8 meter, nyaris selebar gang kecil. Namun, bangunan ramping itu menjulang hingga sekitar 17 meter dan memiliki beberapa lantai berisi kamar-kamar tamu.

Nama hotel ini Pitu Rooms. Dalam bahasa Jawa, pitu berarti tujuh, jumlah kamar yang tersedia di dalamnya. Dari luar terlihat sederhana, menyelip di antara rumah warga. Tapi, justru bentuk ekstrem itulah yang membuat hotel ini jadi perbincangan banyak orang.

Bukan Nomor Satu, tapi Tetap Bikin Takjub

Predikat hotel tertipis di dunia masih dipegang Eh’Häusl di Kota Amberg, Jerman, dengan lebar sekitar 2,4 meter. Hotel mungil itu hanya memiliki dua kamar dan dikenal sebagai tempat menginap romantis dengan fasilitas mewah.

Baca juga: Turis Dunia Lagi Cari ‘Pengalaman Asli’, Indonesia Punya Barangnya

Sementara itu, Pitu Rooms di Salatiga memang sedikit lebih lebar. Namun dari sisi fungsi, hotel ini jauh lebih padat. Ada tujuh kamar yang bisa menampung hingga 14 tamu sekaligus. Jadi meski bukan yang paling tipis di dunia, dari segi kapasitas Pitu Rooms justru lebih unggul.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Seperti Apa Rasanya Menginap?

Untuk membuktikan langsung seperti apa atmosfernya, tim mulamula.id bersama SustainReview sempat bermalam di Pitu Rooms pada pembuka Februari 2026. Dari dalam, sensasi ruang langsung terasa berbeda dibanding hotel pada umumnya.

Ukuran kamar sekitar 2,8 × 3 meter. Ringkas, tapi tertata rapi. Tempat tidur, kamar mandi dalam, serta furnitur disusun presisi agar tidak ada ruang terbuang. Alih-alih terasa sumpek, kamar justru terasa hangat dan fungsional.

Baca juga: Wisata 2026 Berubah Arah, dari Destinasi ke Pengalaman

Karena bangunannya ramping, pengalaman bergerak di dalam hotel pun unik. Liftnya hanya cukup untuk satu orang dalam sekali jalan. Koridornya sempit. Tangga vertikalnya terasa curam. Tapi, justru itu yang bikin pengalaman menginap di sini jadi cerita yang sulit dilupakan.

Nginep di Tengah Kampung

Yang bikin pengalaman ini makin berbeda, hotel ini tidak berdiri di kawasan wisata mewah, melainkan di tengah lingkungan warga. Tamu yang menginap otomatis melihat aktivitas kampung, mendengar suara kehidupan sekitar, dan bisa dengan mudah jajan di warung dekat hotel.

Baca juga: Travel Hijau, Bisnis Baru Dunia Wisata

Dari beberapa kamar, tamu bahkan bisa menikmati pemandangan Gunung Merbabu di kejauhan. Kontras antara kamar kecil dan lanskap gunung yang megah justru jadi daya tarik tersendiri.

Dari beberapa kamar di Pitu Rooms, tamu bisa menikmati pemandangan Gunung Merbabu di kejauhan. Foto: Dok. PituRooms.
Ada Kafe Buat Nongkrong

Di bagian bawah bangunan, terdapat kafe bernama Ngopo Ngopi yang terbuka untuk umum. Jadi orang yang tidak menginap pun bisa datang untuk sekadar ngopi sambil merasakan suasana unik bangunan super ramping ini.

Pitu Rooms membuktikan bahwa pengalaman menginap tidak selalu soal kemewahan atau bangunan luas. Kadang, justru dari ruang sempit yang dirancang kreatif, muncul pengalaman yang paling berkesan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *