
BANYAK orang mengira nasib harimau sumatra aman selama hutannya masih ada. Logikanya sederhana. Hutan terjaga, satwa bertahan. Tapi riset terbaru menunjukkan kenyataannya tidak sesederhana itu.
Penelitian yang terbit di jurnal Nature Conservation pada Juli 2025 mengungkap satu masalah penting yang sering luput dibicarakan, mangsa. Tanpa mangsa yang cukup, harimau tetap terancam, meski hutannya terlihat hijau dan luas.
Harimau sumatra adalah predator puncak. Hidupnya sepenuhnya bergantung pada rantai makanan di hutan. Rusa, babi hutan, dan kancil bukan sekadar satwa liar biasa. Mereka adalah penentu apakah harimau bisa bertahan di alam atau tidak.
Mangsa Menentukan Segalanya
Studi yang dilakukan di Taman Nasional Gunung Leuser menunjukkan hal itu dengan jelas. Wilayah yang paling sering dihuni harimau adalah area dengan mangsa yang melimpah. Hasil pemetaan bahkan memperlihatkan tumpang tindih hingga 40,3 persen antara habitat ideal harimau dan wilayah dengan ketersediaan mangsa utama.
Artinya, harimau tidak sekadar mencari hutan. Mereka mencari hutan yang masih berfungsi.
Baca juga: Karbon Masuk Way Kambas, Konservasi Dipertanyakan
Temuan ini mematahkan anggapan lama bahwa konservasi harimau cukup dilakukan dengan menjaga kawasan hutan. Kenyataannya, hutan bisa saja tetap berdiri, tetapi ekosistem di dalamnya sudah rapuh.

Hutan yang Tak Lagi Aman
Penelitian juga menemukan bahwa harimau lebih sering berada di hutan primer dan hutan sekunder yang masih utuh. Kawasan yang terfragmentasi atau dekat dengan permukiman cenderung dihindari.
Baca juga: Target Apple 2030 Ternyata Bergantung pada Hutan Sumatra
Ketika mangsa berkurang akibat perburuan atau tekanan manusia, harimau terdorong keluar hutan. Mereka masuk ke wilayah manusia, memangsa ternak, atau mendekati permukiman. Dari sini, konflik muncul. Dan sering kali, harimau yang akhirnya disalahkan.
Leuser dan Nasib Harimau
Gunung Leuser memiliki luas sekitar 830 ribu hektare, hanya sekitar dua persen dari Pulau Sumatra. Meski kecil di peta, kawasan ini memegang peran besar bagi kelangsungan hidup harimau sumatra dan satwa liar lain.
Leuser bukan hanya soal luas hutan, tetapi tentang ekosistem yang masih bekerja, atau tidak. Peneliti menggunakan dua metode pemodelan, Random Forest dan Maximum Entropy (MaxEnt), untuk membaca pola sebaran harimau dan mangsanya. Hasilnya konsisten, mangsa dan kualitas hutan adalah kunci.
Baca juga: Darurat Ekologi, Satwa Liar Terjepit di Tengah Sawit dan Tambang
Pesan dari riset ini sederhana, tapi penting. Melindungi harimau sumatra tidak bisa setengah-setengah. Patroli saja tidak cukup. Populasi mangsa harus dijaga. Perburuan harus ditekan.
Jika tidak, hutan akan tetap hijau di peta. Tapi, harimau akan perlahan menghilang dari dalamnya. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.