
MEKKAH – Penyelenggaraan haji 2025 diwarnai kekacauan. Ribuan jemaah Indonesia dilaporkan terpisah dari rombongan mereka. Bahkan ada yang tidak sekamar dengan pasangan atau mahramnya.
Kondisi ini terjadi karena skema baru yang diterapkan Arab Saudi. Tahun ini, layanan jemaah diserahkan ke delapan perusahaan penyedia jasa atau syarikah. Dampaknya langsung terasa sejak awal keberangkatan.
Masalah Dimulai dari Visa
Sebagian jemaah belum mendapatkan visa meski sudah dijadwalkan berangkat. Kementerian Agama terpaksa mengisi kursi kosong dengan jemaah dari kloter lain. Ini memicu kekacauan susunan kelompok.
“Beberapa jemaah bergabung di kloter lain, tapi dilayani oleh syarikah berbeda. Ini membuat mereka terpisah akomodasi,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief.
Kemenag Lakukan Penyatuan Kembali
Kementerian Agama dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi sedang melakukan reunifikasi. Data ribuan jemaah yang terpisah, terutama pasangan suami-istri dan keluarga, sedang diverifikasi ulang.
“Proses penggabungan kembali dilakukan. Kita koordinasi erat dengan Kementerian Haji Saudi,” jelas Hilman.
Baca juga: Kisruh Haji 2025, Saudi Soroti Kinerja Perusahaan Penyelenggara Indonesia
Kartu Nusuk Tak Kunjung Diterima
Persoalan lain muncul dari lambatnya distribusi kartu Nusuk. Padahal kartu ini wajib untuk bisa mengakses area penting di Makkah dan Masjidil Haram, termasuk saat puncak haji.
Kemenag bersama pihak Saudi tengah mempercepat proses distribusi kartu Nusuk untuk jemaah Indonesia.
Pemerintah Minta Jemaah Tenang
Meski diwarnai kendala, pemerintah memastikan berbagai langkah mitigasi telah disiapkan. Petugas di lapangan aktif membantu penyelesaian kasus-kasus yang muncul.
Baca juga: Haji 2025 Dimulai, Ini Panduan Perjalanan Jemaah Indonesia
“Kami apresiasi kedisiplinan dan kesabaran jemaah Indonesia. Pemerintah terus berupaya memperbaiki sistem,” kata Hilman. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.