Kota-kota Dunia Bersatu Lawan Gelombang Panas

Peringatan bahaya panas ekstrem di kawasan gurun. Fenomena suhu tinggi kini menjadi ancaman nyata di banyak kota dunia, memicu krisis kesehatan dan sosial. Foto: Ilustrasi/ Athena Sandrini/ Pexels.

GELOMBANG panas ekstrem kini tak lagi sekadar isu iklim, tapi ancaman nyata yang dirasakan tubuh manusia setiap hari. Di Brasil, Somalia, hingga kota-kota Asia, suhu ekstrem memukul ekonomi, memicu krisis kesehatan, dan membuat hidup di perkotaan makin tak nyaman.

Untuk menjawab tantangan itu, Presidensi COP30 bersama Cool Coalition yang dipimpin UNEP resmi meluncurkan gerakan global bernama Global Mutirão Against Extreme Heat / Beat the Heat, Selasa (11/11).

Tujuannya sederhana tapi krusial: mempercepat penerapan solusi pendinginan berkelanjutan dan ketahanan panas di kota-kota seluruh dunia.

CEO COP30 Ana Toni berbicara pada peluncuran inisiatif Global Mutirão Against Extreme Heat / Beat the Heat yang digagas bersama UNEP untuk mempercepat solusi pendinginan berkelanjutan di kota-kota dunia. Foto: COP30.
185 Kota, 72 Negara, Satu Tujuan

Inisiatif ini jadi bentuk nyata dari komitmen Global Cooling Pledge, bukan lagi janji di atas kertas, tapi aksi yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Hingga kini, 185 kota sudah ikut dalam Mutirão Global, dan 72 negara menandatangani Cooling Pledge dengan target menekan emisi pendinginan hingga 68% pada 2050.

Baca juga: Target 1,5°C Hampir Mustahil, Jun Arima Serukan Transisi Energi yang Lebih Realistis

Menurut CEO COP30, Ana Toni, inisiatif ini berhasil karena langsung menyentuh pengalaman manusia.
“Orang memahami panas karena mereka merasakannya. Mereka baru bisa mendukung aksi iklim kalau benar-benar paham dampaknya,” sebutnya.

Teknologi dan Keadilan Sosial Jadi Kunci

Toni menegaskan, kolaborasi antara pemerintah kota, sektor swasta, dan teknologi akan menentukan keberhasilan gerakan ini.

“Kita akan lihat seberapa banyak kota yang bisa bergabung dalam Beat the Heat sampai COP30 berakhir,” katanya optimistis.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Laporan terbaru UNEP menunjukkan, permintaan pendinginan global akan naik tiga kali lipat pada 2050. Tanpa solusi ramah lingkungan, emisi bisa melonjak dan listrik dunia kewalahan. Tapi jika dunia bergerak menuju sustainable cooling, emisi bisa turun 64%, melindungi 3 miliar orang, dan menghemat USD 43 triliun dalam biaya energi dan infrastruktur.

Brasil Kirim Pesan dari Kelas Sekolah

Menteri Lingkungan Hidup Brasil Marina Silva memberi contoh sederhana: di negaranya, 20 juta anak belajar di sekolah tanpa pendingin udara.

Ia menekankan bahwa mengatasi panas ekstrem butuh tiga agenda, yakni mitigasi, adaptasi, dan transformasi.

“Mitigasi untuk mengatasi penyebabnya, adaptasi untuk bertahan, dan transformasi untuk membangun sistem baru yang tangguh,” katanya.

Pendinginan Adalah Infrastruktur Hidup

Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen menegaskan, akses pendinginan harus dianggap infrastruktur esensial, sejajar dengan air dan listrik. “Panas ekstrem sudah menewaskan setengah juta orang setiap tahun. Pendinginan bukan kemewahan, tapi penyelamat nyawa,” ujarnya tegas.

Baca juga: Metana Jadi Musuh Baru Bumi, Indonesia Ambil Peran di Garis Depan

Dari sisi sosial, Wali Kota Fortaleza, Evandro Leitão, menambahkan: “Menghadapi krisis iklim berarti juga memperjuangkan keadilan sosial. Panas ekstrem paling berat dirasakan oleh mereka yang hidup di tengah ketimpangan.”

Kota di Garda Depan Krisis Iklim

Kota adalah benteng pertama dalam menghadapi panas ekstrem. Namun, urbanisasi justru memperparah efeknya.

Menteri Lingkungan Somalia Bashir Mohamed Jama memperingatkan, suhu tinggi sudah menyebabkan perpindahan penduduk dan tumbuhnya permukiman informal di negaranya.

Dari Fortaleza ke Mogadishu, pesan yang sama menggema kita tak bisa lagi menunggu dinginnya janji. Dunia harus bergerak. Satu kota, satu aksi, satu bumi. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *