
JAKARTA, mulamula.id – Cara membaca label makanan bakal berubah. Pemerintah ingin publik lebih cepat tahu mana yang sehat dan mana yang perlu dibatasi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi merevisi aturan pelabelan gizi pada pangan olahan. Sistem baru bernama Nutri-Level akan ditempatkan langsung di bagian depan kemasan. Tujuannya, bantu konsumen mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Kebijakan ini diteken Kepala BPOM, Taruna Ikrar, pada awal April 2026. Fokus utamanya adalah menekan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), tiga faktor utama di balik lonjakan penyakit tidak menular (PTM).
Baca Label, Lebih Cepat Paham
Selama ini, informasi nilai gizi sering ada di belakang kemasan dan sulit dibaca cepat. Nutri-Level mengubah itu.
Sistem ini memakai kode warna dan huruf dari A sampai D:
- A (hijau tua): paling rendah GGL
- B (hijau muda): rendah GGL
- C (kuning): konsumsi bijak
- D (merah): perlu dibatasi
Artinya sederhana, semakin ke merah, semakin harus kamu waspada.
Baca juga: Kuliner Sehat untuk Akhir Pekan, Menyegarkan dan Bergizi
Pendekatan ini bukan melarang makanan tertentu. Justru, ini memberi “shortcut informasi” agar konsumen bisa membandingkan produk dengan cepat, tanpa harus membaca tabel panjang.
Strategi Baru Lawan Penyakit Diam-diam
Penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung terus meningkat. Salah satu pemicunya adalah konsumsi GGL yang berlebihan.
Baca juga: Prabowo Sandingkan Makan Bergizi Gratis dengan McDonald’s di WEF 2026
Melalui Nutri-Level, pemerintah ingin menggeser perilaku konsumsi. Bukan dengan larangan, tapi dengan transparansi.
Kalimat sederhananya, pilihan tetap di tangan konsumen, tapi informasinya dibuat lebih jelas.
Industri Pangan Didorong Berubah
Menariknya, kebijakan ini tidak hanya menyasar konsumen. Industri juga ikut “didorong”.
BPOM melihat Nutri-Level sebagai peluang. Produk dengan label hijau akan lebih menarik di mata pasar. Artinya, produsen punya insentif untuk memperbaiki komposisi produknya.
Baca juga: Minum dari Galon Plastik Aman? Faktanya Bisa Ganggu Otak dan Hormon
Dengan kata lain, regulasi ini bisa memicu kompetisi baru, siapa paling sehat, dia paling dilirik.
Mulai dari Minuman, Bertahap Jadi Wajib
Implementasi Nutri-Level tidak langsung serentak. Pemerintah akan memulainya dari produk minuman, kategori yang selama ini identik dengan kandungan gula tinggi.
Pada tahap awal, penerapannya masih sukarela. Namun, akan ada masa transisi sebelum akhirnya menjadi wajib.
BPOM juga memastikan proses penyusunan aturan ini sudah melalui konsultasi publik. Mulai dari kementerian, asosiasi industri, hingga organisasi profesi ikut dilibatkan.
Langkah berikutnya adalah tahap pengharmonisasian sebelum resmi diundangkan.
Arah Baru Konsumsi Sehat
Kehadiran Nutri-Level menandai perubahan pendekatan kebijakan pangan di Indonesia. Dari yang sebelumnya informatif pasif, kini menjadi informatif aktif, langsung di depan mata.
Bagi Gen Z yang serba cepat, ini bisa jadi game changer. Tidak perlu lagi mikir lama di rak supermarket.
Cukup lihat warna. Lalu pilih. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.