
LIMBAH batu bara biasanya kita bayangkan sebagai debu kotor yang menumpuk di sekitar pembangkit listrik. Tapi sekarang, limbah itu justru mau dipakai buat… genteng rumah.
Program yang disebut “gentengisasi” ini mendorong pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA), sisa pembakaran batu bara di PLTU, sebagai campuran bahan genteng tanah liat. Gagasan ini sempat disampaikan Presiden Prabowo Subianto, yang ingin mendorong penggunaan genteng lokal sekaligus memanfaatkan limbah batu bara.
Tujuannya terdengar keren. Limbah berkurang, ekonomi lokal bergerak, dan bahan bangunan jadi lebih kuat. Tapi, apakah ini benar solusi ramah lingkungan, atau justru masalah baru yang belum kelihatan?
Dari Limbah Jadi Bahan Bangunan
FABA sebenarnya bukan barang baru di dunia konstruksi. Di berbagai negara, abu batu bara sudah lama dipakai sebagai campuran semen dan beton karena bisa meningkatkan kekuatan material.
Secara teori, kalau dicampur dengan benar, FABA bisa membuat genteng lebih padat dan tahan lama. Selain itu, penggunaan genteng tanah liat dinilai lebih adem dibanding atap seng, jadi rumah bisa terasa lebih sejuk tanpa banyak AC.
Baca juga: Plana Ubah Limbah Plastik dan Sekam Padi Jadi Kayu Berkualitas
Namun para peneliti material mengingatkan, kualitas FABA tidak selalu sama. Kandungan kimianya tergantung jenis batu bara dan proses pembakarannya. Karena itu, pemanfaatannya harus melalui uji laboratorium dan standar mutu ketat agar aman.
Skala Limbahnya Nggak Kecil
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia menghasilkan jutaan ton FABA setiap tahun dari operasional PLTU. Sebagian sudah dimanfaatkan untuk bahan konstruksi seperti semen dan beton, tetapi sebagian lain masih tersimpan di sekitar area pembangkit.
Baca juga: Transisi Energi Indonesia, Antara Ambisi Global dan Realita Lokal
Di beberapa daerah, tumpukan abu ini memicu keluhan warga. Saat kering, debunya bisa beterbangan. Saat hujan, ada kekhawatiran zat tertentu meresap ke tanah atau badan air di sekitarnya.
Karena itu, pemerintah dan BUMN kelistrikan mulai mendorong pemanfaatan alternatif agar limbah tidak terus menumpuk.

Tantangannya Justru di Lapangan
Pihak PT PLN sebelumnya juga menyebut pemanfaatan FABA melalui UMKM dan industri lokal sebagai salah satu cara mengurangi beban penumpukan limbah di dekat PLTU.
Masalahnya, kalau produksi genteng dilakukan oleh banyak pelaku usaha kecil di berbagai daerah, pengawasannya jadi lebih rumit dibanding satu pabrik besar.
Baca juga: PLTU Tutup Dini, Selamatkan Nyawa dan Ekonomi
Artinya, harus ada standar jelas:
• Berapa persen campuran FABA yang aman
• Bagaimana proses pembakarannya
• Bagaimana memastikan produk tidak berbahaya bagi pekerja maupun penghuni rumah
Tanpa pengawasan ketat, niat baik bisa berujung risiko kesehatan dan lingkungan yang baru.
Solusi Sementara, Bukan Jawaban Utama
Mengubah limbah jadi bahan bangunan jelas lebih baik daripada membiarkannya menumpuk. Ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, di mana limbah diputar kembali jadi barang berguna.
Tapi tetap ada pertanyaan besar, selama PLTU batu bara masih terus beroperasi, limbahnya juga akan terus ada. Jadi, pemanfaatan FABA lewat gentengisasi bisa membantu, tapi bukan solusi utama.
Baca juga: Hotel Setipis Ini Ada di Salatiga, View-nya Langsung Gunung
Akar masalahnya tetap pada ketergantungan besar terhadap batu bara sebagai sumber listrik. Selama itu belum berkurang, produksi limbah juga tidak akan benar-benar turun.
Jadi, genteng dari limbah batu bara bisa jadi bagian dari solusi, asal standar keamanannya jelas, pengawasannya serius, dan tidak dipakai sebagai alasan untuk terus bergantung pada batu bara. Kalau tidak, kita hanya memindahkan masalah dari halaman belakang PLTU ke atap rumah. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.