Lulus Doktor AI di Usia 26, Dea Buktikan Akselerasi Akademik Bukan Mimpi

Dea Angelia Kamil menunjukkan ijazah kelulusannya usai prosesi wisuda Universitas Gadjah Mada, resmi menyandang gelar doktor di bidang Artificial Intelligence pada usia 26 tahun. Foto: Dok. Dea Angelia Kamil.

WISUDA bukan cuma soal toga dan foto keluarga. Di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), momen kelulusan kali ini menghadirkan cerita yang bikin banyak orang angkat alis.

Sebanyak 1.061 lulusan pascasarjana resmi dikukuhkan. Rinciannya, 825 magister, 118 spesialis, 14 subspesialis, dan 104 doktor, plus 13 lulusan periode sebelumnya. Tapi satu nama mencuri perhatian, Dea Angelia Kamil.

Di usianya yang baru 26 tahun, Dea sudah menyandang gelar doktor Ilmu Komputer. Bandingkan dengan rata-rata usia lulusan doktor yang biasanya menyentuh 40 tahun. Jaraknya jauh. Prestasinya pun terasa makin luar biasa.

Informasi ini juga dipublikasikan melalui laman resmi UGM, yang menyoroti capaian Dea sebagai salah satu doktor termuda di kampus tersebut.

Dari Akselerasi ke Jalur Cepat Doktor

Perjalanan Dea bukan hasil instan. Ia mengikuti program akselerasi sejak SMA. Langkah itu mempercepat ritme pendidikannya sejak awal.

Saat lulus S1, ia mendapatkan beasiswa PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul). Skema ini memungkinkan mahasiswa langsung menempuh jalur S2–S3 secara terintegrasi.

Baca juga: Lulus S2 di Usia 22, Amanda Jadi Inspirasi Anak Muda

Hasilnya? Dea menuntaskan magister dan doktor dalam waktu sekitar empat tahun. Cepat, tapi tetap penuh tantangan.

Pindah Jalur Demi AI

Awalnya Dea berasal dari latar belakang Matematika. Namun, ketertarikannya pada komputasi membawanya berbelok ke Ilmu Komputer.

Fokusnya, Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI). Bidang yang kini jadi “otak” di balik banyak teknologi modern, dari sistem rekomendasi sampai kendaraan pintar.

Baca juga: UI Buka Jurusan AI, Mahasiswa Disiapkan Bangun Otak Mesin

Keputusan pindah jalur ini bukan sekadar tren. Ia melihat AI sebagai ruang eksplorasi ilmiah yang luas dan relevan dengan masa depan.

Riset ke Korea, Hadapi Dingin dan Disiplin

Salah satu pengalaman paling membekas datang saat Dea mengikuti program PKPI dan meneliti di University of Ulsan, Korea Selatan.

Topiknya serius, intelligent transportation system, khususnya estimasi kecepatan kendaraan berbasis sistem otomatis. Riset ini berpotensi mendukung pengembangan transportasi pintar yang lebih efisien dan minim intervensi manual.

Baca juga: S3 di Usia 25, Rizky Aflaha Buktikan Tak Ada Batas untuk Mimpi

Namun kehidupan riset di luar negeri bukan liburan akademik. Ritme kerja padat. Senin sampai Jumat penuh aktivitas. Sabtu pun masih diisi seminar dan bimbingan profesor. Ditambah lagi cuaca musim dingin yang ekstrem.

Tekanan akademik dan adaptasi lingkungan berjalan beriringan. Di sinilah mental diuji.

Kekuatan Komunitas dan Dukungan Terdekat

Dea tak berjalan sendirian. Lingkungan riset di Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi (Elins) UGM jadi ruang tumbuh yang penting. Diskusi rutin, teman satu bimbingan, dan arahan promotor ikut membentuk prosesnya.

Yang bikin momen wisuda makin emosional, sang suami, yang juga peserta program PMDSU, lulus bersamaan. Perjuangan akademik mereka jadi cerita berdua.

Pesan untuk Calon Pejuang S3

Di balik gelar doktor muda, Dea mengingatkan satu hal, jalur S3 bukan jalan santai. Publikasi, riset panjang, revisi tanpa henti, semuanya butuh ketahanan mental.

Tapi kalau sudah menemukan passion, proses berat itu justru terasa bermakna.

Baca juga: Dari Rotan ke Gitar, Kisah Aruma Cumlaude ITB

Kisah Dea menunjukkan satu hal penting, usia bukan batas mutlak dalam dunia akademik. Dengan strategi, dukungan, dan konsistensi, jalur cepat bisa tetap berkualitas.

Dan buat Gen Z yang sering merasa “terlambat” atau “ketinggalan”, cerita ini jadi pengingat. Setiap orang punya timeline berbeda. Yang penting bukan seberapa cepat, tapi seberapa siap. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *