Menembus Jalan Runtuh, Relawan Mengantar Harapan ke Gayo

Antrean kendaraan relawan dan warga terlihat mengular di jalur longsor simpang KKA Camp 16, Bener Meriah, Aceh. Akses sempit dan tanah labil membuat distribusi bantuan berjalan lambat dan berisiko. Foto: @armadani_66.

TIGA pekan setelah banjir bandang dan tanah longsor menghantam dataran tinggi Gayo, bencana belum sepenuhnya pergi.
Jalan rusak.
Akses terputus.
Dan di banyak kampung di Bener Meriah dan Takengon, bahan makanan masih jadi soal paling mendesak.

Di tengah situasi itu, para relawan bergerak.

Mereka masuk bukan lewat jalur aman.
Bukan pula menunggu jalan pulih.
Mereka menembus medan yang masih labil demi memastikan bantuan sampai.

Dari udara, antrean kendaraan relawan dan warga tampak memanjang di jalur longsor lintas KKA. Jalan sempit dan tanah labil membuat perjalanan bantuan harus dilakukan bergantian. Foto: @armadani_66.
Jalan yang Tak Lagi Ramah

Di simpang KKA Camp 16, sisa longsoran membelah perbukitan. Tebing terkelupas. Tanah merah menganga. Jalur yang tersisa hanya cukup untuk satu kendaraan dalam satu waktu.

Baca juga: Puluhan Kilometer di Atas Lumpur, Warga Gayo Berjalan Demi Dapur

Dari udara, antrean kendaraan tampak panjang dan rapuh. Truk logistik, mobil bak terbuka, sepeda motor, hingga kendaraan warga bercampur di satu jalur sempit. Semua bergerak pelan. Sangat pelan.

Satu kesalahan kecil bisa berujung jatuh ke jurang.
Atau tertimpa longsoran susulan.

“Ini bukan jalan biasa. Ini jalur risiko,” ujar seorang relawan yang ikut mengawal distribusi bantuan, Jumat (19/12/2025).

“Tapi kami tetap melintas. Doakan kami, karena logistik ini harus sampai ke saudara-saudara kami di Bener Meriah dan Takengon,” tambah Armadani_66, relawan asal Sabang, melalui akun Instagram-nya. Foto-foto rekaman Armadani kami sajikan untuk Anda di sini.

Permukiman warga berada tepat di bawah lereng yang longsor di kawasan Bener Meriah. Akses terbatas membuat distribusi bahan makanan dan kebutuhan pokok masih sangat bergantung pada relawan.
Foto: @armadani_66.
Logistik Tak Bisa Menunggu

Di kampung-kampung Gayo, dapur tak bisa menunggu alat berat menyelesaikan pekerjaannya. Beras menipis. Gas habis. Harga bahan pokok melonjak karena distribusi tersendat.

Itulah sebabnya relawan memilih masuk sekarang.

Baca juga: Penanganan Bencana Aceh Disorot, Mendagri Minta Maaf

Bantuan yang dibawa bukan barang mewah. Isinya sederhana. Beras, mi instan, minyak goreng, telur, air bersih, dan kebutuhan harian lain. Tapi bagi warga yang sudah berminggu-minggu hidup dalam keterbatasan, logistik itu adalah penentu hidup.

“Kalau kami tunggu jalan benar-benar aman, warga keburu kehabisan,” kata relawan lainnya.

Jalur berkelok di kawasan longsor menjadi satu-satunya akses menuju dataran tinggi Gayo. Setiap tikungan menyimpan risiko runtuhan susulan, terutama saat hujan turun. Foto: @armadani_66.
Bercanda dengan Maut di Setiap Tikungan

Medan menuju Takengon dan Bener Meriah nyaris tak memberi ruang lengah. Di satu sisi tebing curam. Di sisi lain jurang terbuka. Tanah basah membuat permukaan jalan licin dan mudah bergerak.

Beberapa titik hanya bisa dilalui dengan sistem buka-tutup. Kadang kendaraan harus berhenti lama, menunggu alat berat membersihkan sisa longsor. Saat hujan turun, risiko berlipat.

“Kalau hujan deras, semua harus siap mundur. Longsor bisa datang tanpa tanda,” kata Erwin, relawan yang berjaga di depan jalur.

Namun perjalanan tetap dilanjutkan.

Tak ada teriakan. Tak ada klakson panjang. Hanya instruksi singkat, konsentrasi penuh, dan doa dalam diam.

Lereng perbukitan yang longsor masih terlihat terbuka dan rawan bergerak. Hingga kini, jalur menuju Bener Meriah dan Takengon belum sepenuhnya aman dilalui. Foto: @armadani_66.
Ketika Bantuan dan Harapan Bergerak Bersama

Bagi warga Gayo, kehadiran relawan bukan sekadar membawa logistik. Tapi, juga membawa kabar bahwa mereka tidak sendirian.

Sebelumnya, warga harus berjalan kaki puluhan kilometer melewati lumpur demi membeli beras, gas, dan kebutuhan dapur. Kini, bantuan mulai mendekat, meski dengan risiko yang sama beratnya.

Baca juga: Prabowo Target Pemulihan Sumatra 3 Bulan, Ulama Aceh Dorong Status Bencana Nasional

Relawan dan warga bertemu di satu kenyataan yang sama,
jalan rusak, hidup tak bisa menunggu.

“Kami cuma penghubung,” ujar Alimin, relawan lainnya. “Yang paling berat justru warga yang bertahan di kampung tanpa akses.”

Perjuangan yang Belum Selesai

Meski sebagian titik mulai diperbaiki, kondisi di lapangan masih jauh dari normal. Longsoran besar belum sepenuhnya stabil. Alat berat berpacu dengan cuaca. Ancaman susulan masih mengintai.

Foto-foto dari udara memperlihatkan satu hal yang tak terbantahkan. Skala kerusakan jauh lebih besar dari yang terlihat dari darat. Manusia tampak kecil. Kendaraan tampak rapuh.

Namun di jalur berlumpur itu, para relawan tetap melaju.

Setiap meter yang ditembus adalah harapan yang dipindahkan.
Dari kendaraan ke kampung.
Dari tangan relawan ke keluarga yang menunggu.

Dan selama jalan belum benar-benar pulih, perjuangan itu belum akan berhenti. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *