Metana Jadi Musuh Baru Bumi, Indonesia Ambil Peran di Garis Depan

Nyala api dari pipa gas di ladang industri menggambarkan emisi metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dari CO₂. Dunia kini berpacu untuk menekannya sebelum terlambat. Foto: Yerevan Malerva/Pexels.

DUNIA lagi serius membahas “musuh baru” Bumi, gas metana. Gas ini diam-diam punya daya rusak jauh lebih kuat dari karbon dioksida (CO₂), meski bertahan lebih singkat di atmosfer. Dan kabar baiknya, Indonesia kini jadi salah satu negara yang masuk barisan terdepan dalam upaya global buat menekannya.

Dari Belem, Aksi Iklim Masuk Babak Baru

Di sela-sela persiapan COP30 di Belem, Brasil, digelar Methane Summit, forum yang mempertemukan Brasil, Inggris, dan Tiongkok dengan dukungan banyak negara lain. Di sanalah diluncurkan inisiatif baru bernama Super Pollutant Country Action Accelerator, program yang fokus mempercepat pengurangan metana dan gas superpolutan lainnya.

Baca juga: COP30 Dimulai: Harapan, Janji, dan Ujian di Jantung Hutan Amazon

Indonesia jadi satu dari tujuh negara pertama yang ikut bergabung, bareng Brasil, Kamboja, Kazakhstan, Meksiko, Nigeria, dan Afrika Selatan. Mereka akan dapat dukungan awal sebesar USD 25 juta buat mulai membangun lembaga khusus pengendalian emisi dan menjalankan aksi cepat di sektor energi, pertanian, dan limbah.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Langkah Cepat, Dampak Nyata

Kenapa metana penting banget? Karena gas ini bisa memerangkap panas 80 kali lebih kuat dari CO₂ dalam jangka pendek. Artinya, kalau bisa ditekan sekarang, efek pendinginannya bisa dirasakan dalam dekade ini juga, bukan menunggu puluhan tahun.

Baca juga: Target 1,5°C Hampir Mustahil, Jun Arima Serukan Transisi Energi yang Lebih Realistis

Inggris juga meluncurkan kesepakatan internasional buat menekan emisi metana dari industri minyak dan gas. Targetnya, menghentikan pembakaran gas sisa (flaring) dan kebocoran metana paling lambat tahun 2030. Negara kaya dan berkembang diharapkan bisa kerja bareng, bukan saling tunjuk.

Indonesia dan Harapan Baru Aksi Iklim

Bagi Indonesia, langkah ini sejalan dengan komitmen FOLU Net Sink 2030, strategi nasional buat menyeimbangkan emisi dari sektor kehutanan dan lahan. Selain memperkuat reputasi diplomasi iklim, keterlibatan di inisiatif metana juga bisa membuka jalan buat akses pendanaan hijau dan teknologi baru di dalam negeri.

Presiden COP30 Ana Toni memimpin diskusi Methane Summit di Belém, Brasil. Ia menegaskan pentingnya kerja bareng lintas negara buat melahirkan solusi nyata bagi krisis iklim. Foto: Rogerio Casemiro/Kementerian LH dan Perubahan Iklim Brasil (MMA).

Menteri Lingkungan Brasil Marina Silva menyebut kerja sama lintas negara ini sebagai “mutirão global”, alias gotong royong dunia melawan polutan cepat. “Metana itu kecil tapi mematikan. Kalau kita bisa menekannya, kita bisa memperlambat pemanasan global lebih cepat,” ujarnya.

Dunia Bergerak, Indonesia Ikut Mendorong

Menteri Lingkungan Tiongkok Huang Runqiu bilang, perubahan iklim nggak bisa dihadapi sendirian. Sementara duta besar Barbados, Liz Thompson, mengingatkan bahwa bagi negara pulau kecil, pengendalian metana itu soal hidup dan mati.

Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara

Dari berbagai sudut dunia, pesan yang sama menggema: kita kehabisan waktu.
Dan kali ini, Indonesia nggak cuma ikut rapat, tapi ikut berlari di barisan depan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *