
·
TEHERAN, mulamula.id – Iran memasuki babak baru dalam sejarah politiknya. Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Penunjukan itu diumumkan oleh Majelis Ahli, lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui televisi nasional Iran. Dalam pernyataannya, Majelis Ahli menegaskan proses pemilihan tetap berjalan meski negara berada dalam situasi perang dan menghadapi ancaman militer.
Bahkan serangan bom terhadap kantor Sekretariat Majelis Ahli, yang menewaskan sejumlah staf dan anggota keamanan, tidak menghentikan proses penetapan kepemimpinan baru.
Baca juga: 5 Kandidat Pengganti Ali Khamenei, Siapa Paling Berpeluang?
Keputusan ini langsung mendapat dukungan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), kekuatan militer elite yang sangat berpengaruh dalam sistem politik Iran.
IRGC menyebut Mojtaba Khamenei sebagai sosok “ahli hukum yang mumpuni” dan “pemikir muda yang memahami persoalan politik dan sosial Iran”.
Dalam pernyataannya, IRGC juga menegaskan kesetiaan penuh kepada pemimpin tertinggi baru tersebut.
Sosok yang Lama Berada di Balik Layar
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba Khamenei selama ini hampir tidak pernah tampil di ruang publik.
Ia tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan. Tidak pernah berpidato resmi di depan masyarakat. Wawancara publik pun nyaris tidak ada.
Foto dan rekaman video dirinya sangat terbatas.
Namun di balik layar, namanya sudah lama disebut sebagai figur berpengaruh di lingkar kekuasaan Iran.
Sejumlah laporan diplomatik Amerika Serikat yang bocor melalui WikiLeaks bahkan menggambarkannya sebagai “kekuatan di balik jubah”.
Ia juga kerap disebut sebagai penjaga akses menuju Ayatollah Ali Khamenei, dengan pengaruh besar terhadap keputusan politik di lingkaran elite.
Kontroversi Soal Dinasti Politik
Penunjukan Mojtaba Khamenei berpotensi memicu kontroversi.
Republik Islam Iran lahir pada 1979 melalui revolusi yang menggulingkan monarki. Salah satu prinsip yang dijunjung adalah penolakan terhadap kekuasaan turun-temurun.
Baca juga: Serangan AS-Israel Tewaskan Ali Khamenei, Apa Dampaknya ke Dunia?
Karena itu, munculnya putra pemimpin tertinggi sebagai penerus langsung memicu kekhawatiran bahwa sistem republik bisa berubah menjadi semacam dinasti politik.
Dua tahun lalu, seorang anggota Majelis Ahli bahkan pernah menyebut bahwa Ali Khamenei menolak gagasan Mojtaba menjadi kandidat penerusnya.
Namun, sang pemimpin tidak pernah secara terbuka membahas isu tersebut.
Dari Mashhad ke Lingkaran Kekuasaan
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota besar di timur laut Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara keluarga Khamenei.
Pendidikan menengahnya ditempuh di Sekolah Alavi di Teheran, lembaga pendidikan yang dikenal kuat dengan kurikulum keagamaan.

Saat berusia 17 tahun, Mojtaba sempat beberapa kali terlibat dalam operasi militer selama Perang Iran–Irak pada 1980-an.
Pengalaman perang itu ikut membentuk sikap keras rezim Iran terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang saat itu mendukung Irak.
Pada 1999, Mojtaba mulai menekuni studi agama di Qom, pusat pendidikan teologi Syiah.
Menariknya, ia baru mengenakan pakaian ulama pada usia sekitar 30 tahun, sesuatu yang dianggap tidak lazim dalam tradisi pendidikan ulama Iran.
Gelar Ayatollah dan Legitimasi Politik
Beberapa hari terakhir, sejumlah media dan tokoh yang dekat dengan lingkar kekuasaan Iran mulai menyebut Mojtaba Khamenei dengan gelar “Ayatollah”.
Gelar tersebut biasanya diberikan kepada ulama senior dengan kapasitas keilmuan tinggi.
Sebagian pengamat menilai perubahan ini sebagai upaya memperkuat legitimasi religius Mojtaba menjelang atau setelah penunjukannya.
Hal serupa pernah terjadi pada ayahnya.
Ali Khamenei juga dipromosikan cepat menjadi Ayatollah ketika ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 1989.
Tuduhan Campur Tangan Politik
Nama Mojtaba pertama kali mencuat secara luas pada pemilihan presiden Iran 2005. Saat itu, kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh Mojtaba ikut memengaruhi proses pemilu yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.
Karroubi menyebut jaringan Garda Revolusi dan milisi Basij digunakan untuk mendukung kandidat garis keras tersebut.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Tunda Kepulangan Jemaah Umrah
Kontroversi serupa kembali muncul pada pemilu 2009 yang memicu gelombang protes besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau.
Sebagian demonstran saat itu bahkan meneriakkan slogan menolak kemungkinan Mojtaba menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi.
Beberapa tokoh oposisi kemudian dipenjara atau ditempatkan dalam tahanan rumah setelah protes tersebut.
Tantangan Berat di Depan Mata
Sebagai pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei akan memegang kekuasaan besar di Iran. Jabatan ini mengontrol militer, kebijakan keamanan, lembaga peradilan, serta arah politik negara.
Namun tantangan yang menantinya tidak kecil.
Iran sedang menghadapi tekanan ekonomi, sanksi internasional, serta konflik geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah.
Selain itu, Mojtaba juga harus menghadapi keraguan sebagian masyarakat yang menilai sistem politik Iran mulai bergerak menuju model kekuasaan keluarga.
Jika ia gagal membangun legitimasi politik dan religius yang kuat, stabilitas Republik Islam bisa kembali diuji. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.