
JAKARTA, mulamula.id – Sektor pariwisata Indonesia lagi disorot tajam. Bukan soal destinasi baru atau festival besar, tapi soal impact-nya ke ekonomi rakyat.
Dalam rapat kerja di Komisi VII DPR, Rabu (4/2), anggota dewan dari Partai NasDem, Yoyok Sudibyo, terang-terangan memberi nilai 50 dari 100 untuk kinerja Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Menurutnya, pariwisata Indonesia masih sibuk di permukaan. Banyak acara. Banyak seremoni. Tapi, belum terasa sebagai mesin ekonomi yang benar-benar menggerakkan warga di bawah.
Pariwisata Dinilai Belum “Nendang” ke Rakyat
Yoyok menilai kebijakan pariwisata belum efektif mengalirkan manfaat langsung ke pelaku wisata kecil. Padahal, sektor ini sering disebut sebagai penyumbang devisa dan pembuka lapangan kerja.
Yang jadi sorotan utama, arah belanja anggaran.
Baca juga: Promosi Indonesia di Eropa Ramai, Dampaknya Masih Tanda Tanya
Ia mengingatkan agar dana Kementerian Pariwisata tidak habis untuk kegiatan internal, rapat, atau seminar. Anggaran, katanya, harus menyentuh pengelola destinasi, desa wisata, dan masyarakat lokal.
Banyak destinasi yang dibangun pakai uang negara, tapi akhirnya sepi. Bahkan bangkrut.
Umbul Ponggok Jadi Contoh yang Berhasil
Yoyok menyebut satu contoh yang menurutnya layak ditiru, Umbul Ponggok di Klaten.
Objek wisata berbasis desa itu disebut mampu memberi manfaat ekonomi langsung bagi warga. Keuntungannya dibagi ke masyarakat. Model seperti ini dianggap lebih nyata ketimbang event besar yang efeknya cepat hilang.
Baca juga: Turis Dunia Lagi Cari ‘Pengalaman Asli’, Indonesia Punya Barangnya
Pesannya jelas, pariwisata harus jadi bisnis komunitas, bukan sekadar proyek foto-foto.

Tiket Mahal, Jalan Rusak, Izin Ribet
Masalah lain juga disorot. Harga tiket transportasi dinilai masih terlalu mahal. Akses jalan ke banyak destinasi rusak. Perizinan usaha wisata juga belum ramah pelaku usaha kecil.
Artinya, infrastruktur dibangun, tapi ekosistem pendukungnya belum siap. Tanpa konektivitas murah dan mudah, wisata sulit tumbuh.
Soal Keamanan, Polisi Wisata Dipertanyakan
Isu keamanan juga masuk daftar kritik. Yoyok mempertanyakan peran Polisi Wisata yang dinilai jarang terdengar lagi.
Ia menyinggung beberapa insiden kecelakaan di kawasan wisata, termasuk kecelakaan jip di Gunung Bromo. Pengalaman pribadinya ikut ajang lari trail internasional di Danau Toba juga jadi contoh bahwa standar keamanan destinasi masih perlu diperkuat.
Baca juga: Travel Hijau, Bisnis Baru Dunia Wisata
Menurutnya, rasa aman adalah bagian penting dari pengalaman wisata, bukan bonus.
Menpar: Itu Penilaian Subjektif
Menanggapi nilai 50 tersebut, Widiyanti menilai itu pendapat pribadi. Ia menegaskan tidak semua anggota dewan punya pandangan yang sama, dan banyak juga yang mengapresiasi kinerja kementeriannya.
Baginya, kritik adalah hal wajar dalam proses perbaikan.
Dari Event ke Ekosistem
Perdebatan ini menunjukkan satu hal, pariwisata Indonesia sedang masuk fase evaluasi. Bukan lagi soal berapa banyak festival atau branding internasional. Tapi, seberapa dalam dampaknya ke ekonomi lokal.
Baca juga: Bali Belum Sentuh Target, Wisata Domestik Mulai Melirik Jawa
Kalau pariwisata ingin benar-benar jadi tulang punggung ekonomi, fokusnya harus bergeser. Dari panggung utama ke warung kecil. Dari konferensi ke kampung wisata. Dari seremoni ke sirkulasi uang warga.
Di situlah nilai sebenarnya diuji. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.