
Mulamula.id – Aksi jalanan kembali mengguncang Amerika Serikat. Sabtu (28/3), jutaan orang turun ke jalan dalam gelombang protes bertajuk No Kings. Ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ini sinyal bahwa ketegangan politik di negeri itu belum mereda.
Gerakan ini menyasar langsung kepemimpinan Donald Trump. Kritiknya jelas, kekuasaan dinilai makin terpusat dan berpotensi melenceng dari prinsip demokrasi.
Gelombang yang Meluas
Aksi terjadi di kota-kota besar seperti New York City dan Los Angeles. Tapi, bukan itu yang paling menarik.
Protes juga muncul di kota kecil. Tempat yang biasanya sunyi dari isu politik nasional. Ini menandakan satu hal, keresahan sudah menyebar luas.
Baca juga: Nama Trump Masuk Dolar, Tradisi 165 Tahun Resmi Diubah
Di Washington, DC, massa memadati National Mall hingga tangga Lincoln Memorial. Mereka membawa simbol satir, termasuk patung yang menyindir pejabat pemerintah.
Sementara di St Paul, aksi berubah lebih emosional. Dua warga sipil tewas dalam operasi imigrasi federal. Peristiwa ini menjadi pemicu kemarahan publik.
Bukan Sekadar Aktivis
Gerakan ini tidak hanya digerakkan aktivis. Figur publik ikut turun tangan.
Salah satunya Bruce Springsteen. Ia tampil langsung di tengah massa. Musik dijadikan alat protes. Lagu-lagunya menyuarakan kritik terhadap kebijakan imigrasi.
Baca juga: Trump Tangkap Presiden Venezuela: Perang Narkoba, Minyak, atau Politik Global?
Di sisi lain, bentrokan kecil tak terhindarkan. Penangkapan terjadi di Dallas. Insiden kekerasan dilaporkan di Los Angeles.
Pemerintah merespons dengan pengerahan aparat. Pendekatan pengendalian massa pun diperketat.
Dari Nasional ke Global
Fenomena ini tidak berhenti di dalam negeri. Warga AS di luar negeri ikut bergerak.
Aksi solidaritas muncul di kota-kota seperti Paris, London, hingga Lisbon. Bahkan meluas ke Roma dan Berlin.
Artinya, isu ini sudah menjadi perhatian global.
Baca juga: Trump vs Zelensky, dari Diplomasi ke Konfrontasi di Gedung Putih
Menurut data penyelenggara yang dikutip Al Jazeera, lebih dari 3.300 agenda aksi direncanakan di seluruh 50 negara bagian. Skala ini menunjukkan mobilisasi yang sangat terorganisir.
Arah Demokrasi Dipertanyakan
Sejak kembali menjabat pada 2025, Trump memperluas penggunaan kekuasaan eksekutif. Termasuk pengerahan Garda Nasional dan kebijakan hukum yang menuai kontroversi.
Isu yang diprotes pun beragam. Mulai dari kebijakan imigrasi, konflik luar negeri seperti Iran, hingga tekanan biaya hidup.
Baca juga: Serangan AS-Israel Tewaskan Ali Khamenei, Apa Dampaknya ke Dunia?
Salah satu penyelenggara menyebut, ini bukan sekadar soal kebijakan. Ini soal arah negara.
“Ini Amerika. Kekuasaan milik rakyat, bukan milik raja,” kata mereka, dikutip dari BBC.
Namun Gedung Putih merespons sinis. Protes disebut hanya luapan emosi politik yang dibesar-besarkan.
Apa Maknanya?
Kunci dari gelombang ini bukan hanya jumlah massa. Tapi penyebarannya.
Ketika protes muncul di kota kecil hingga luar negeri, itu berarti isu sudah menembus batas geografis dan sosial.
Dan itu sering menjadi tanda, konflik politik sudah masuk fase yang lebih dalam. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.