
JAKARTA, mulamula.id – Pasar saham Indonesia lagi tidak baik-baik saja. Sinyalnya datang dari luar negeri.
Dua raksasa keuangan dunia, Goldman Sachs dan UBS, kompak menurunkan rekomendasi saham Indonesia. Goldman kini melihat pasar RI sebagai underweight. UBS memilih posisi netral. Artinya, mereka menyarankan investor global untuk lebih hati-hati.
Pemicu utamanya, sorotan dari MSCI, lembaga penyusun indeks saham yang jadi acuan dana investasi triliunan dolar di dunia.
Kenapa MSCI Penting Banget?
MSCI itu ibarat “daftar resmi” pasar saham global. Banyak dana besar otomatis beli atau jual saham berdasarkan daftar ini. Jadi, kalau status Indonesia di mata MSCI goyah, uang bisa langsung kabur.
MSCI sedang menyoroti soal investability alias kelayakan investasi. Fokusnya ke dua hal,
likuiditas saham dan free float, porsi saham yang benar-benar beredar di publik.
Baca juga: MSCI Rem Pasar Saham Indonesia, Isu Transparansi Bikin Investor Global Waspada
Masalahnya, banyak perusahaan besar di Indonesia dikuasai segelintir pemilik. Saham yang bisa diperdagangkan publik jadi tipis. Akibatnya, harga saham gampang digerakkan dan pasar dinilai kurang sehat.
Potensi Dana Kabur Miliaran Dolar
Goldman menghitung skenario ekstrem. Jika Indonesia sampai turun kelas dari pasar berkembang ke pasar frontier, dana pasif global bisa melepas saham hingga USD 7,8 miliar.
Belum lagi potensi tambahan USD 5,6 miliar jika FTSE Russell ikut meninjau status Indonesia.
Totalnya? Lebih dari USD 13 miliar bisa keluar. Itu setara ratusan triliun rupiah.

Dampaknya terasa langsung. IHSG sempat ambles sampai 10 persen dalam sehari. Likuiditas menipis. Volatilitas naik.
Bukan Cuma Soal Saham
Investor juga memperhatikan arah kebijakan dalam negeri. Langkah pemerintah mengambil alih sejumlah aset sumber daya alam dinilai menambah ketidakpastian regulasi.
Bagi investor global, perubahan kepemilikan besar-besaran oleh negara selalu dibaca sebagai risiko tambahan. Apalagi jika aturannya belum sepenuhnya jelas.
Masih Ada Sisi Terang?
Tidak semua melihat ini sebagai kiamat pasar. Beberapa analis menilai kondisi ini bisa jadi peluang beli, terutama di saham bank besar, telekomunikasi, dan komoditas.
Tapi satu hal jelas, pasar sekarang menunggu kejelasan aturan.
Baca juga: IHSG Anjlok 8%, BEI Tekan Tombol Darurat Trading Halt
Kalau transparansi kepemilikan, likuiditas saham, dan kepastian regulasi bisa dibenahi, kepercayaan investor bisa pulih. Kalau tidak, tekanan bisa bertahan lebih lama.
Buat Gen Z yang mulai investasi, ini momen penting buat paham, pasar saham tidak cuma soal cuan, tapi juga soal kepercayaan dan aturan main. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.