Pesan Makan, Drone yang Antar

Layanan pesan-antar makanan diuji lewat jalur udara menggunakan drone di Singapura. Foto: Ilustrasi/ Pixabay/ Pexels.

MAKANAN datang dari langit? Itu bukan lagi adegan film fiksi ilmiah. Di Singapura, layanan pesan-antar mulai bereksperimen dengan teknologi drone untuk memangkas waktu kirim yang selama ini terhambat oleh kondisi geografis kota.

Perusahaan ride-hailing Grab menjalankan uji coba pengantaran makanan menggunakan drone di kawasan Tanjong Rhu, Singapura. Program ini berlangsung selama tiga bulan dan menjadi bagian dari eksplorasi Grab terhadap teknologi otonom di lingkungan perkotaan yang padat.

Menyeberang Sungai, Bukan Jalan Memutar

Masalahnya sederhana tapi krusial. Di Tanjong Rhu, permukiman warga dipisahkan oleh Sungai Kallang dari pusat kuliner utama. Bagi pengemudi, rute memutar berarti waktu tempuh lebih lama dan pengantaran yang kurang efisien.

Baca juga: Drone Mengudara, Dunia Berubah

Di titik inilah drone masuk. Bukan memutar jauh, pesanan diterbangkan melintasi sungai lewat jalur udara yang telah disetujui regulator. Hasilnya, waktu kirim lebih singkat, tenaga lebih hemat.

Drone Terbang, Manusia Tetap Pegang Peran

Grab menegaskan teknologi ini bukan menggantikan mitra pengemudi. Justru sebaliknya, sistem dirancang kolaboratif.

Alurnya berlapis. Mitra pengemudi mengantar makanan ke landasan drone. Staf Grab dan operator dari ST Engineering memuat pesanan ke drone. Setelah menyeberang sungai, pesanan diterima kembali oleh staf, lalu diantar pengemudi lain ke rumah pelanggan.

Baca juga: Drone dan Jejak Kebaikan di Langit Terbuka

Drone mengurus bagian paling rumit. Manusia memastikan detail. Lebih dari 20 mitra pengemudi telah dilatih khusus untuk proses serah-terima ini.

Ilustrasi drone yang digunakan dalam uji coba pengantaran makanan berbasis teknologi otonom di kawasan perkotaan. Foto: Ilustrasi/ Magic K/ Pexels.
Cepat, tapi Tetap Terkontrol

Selama uji coba, layanan berjalan Selasa hingga Minggu pukul 10.00–18.00 waktu setempat. Setiap hari maksimal 28 pengantaran drone dilakukan. Rata-rata waktu terbang pulang-pergi sekitar delapan menit.

Operasional dihentikan saat hujan dan libur nasional. Wilayah layanan juga dibatasi. Hanya konsumen di Tanjong Rhu dan merchant tertentu dari Bugis, Kampong Glam, serta Suntec City yang terlibat. Tujuannya satu, uji coba tetap terkendali.

Privasi dan Kebisingan Jadi Sorotan

Isu drone di kota padat tak lepas dari kekhawatiran warga. Grab mengklaim aspek ini sudah diperhitungkan. Drone dirancang dengan tingkat kebisingan setara percakapan normal dan sebagian besar terbang di atas perairan terbuka.

Baca juga: Drone dan Batas Privasi, Siapa Mengintai dari Langit?

Kamera navigasi tidak menyimpan rekaman. Data visual tidak direkam permanen. Grab juga mengumpulkan masukan dari warga, mitra, dan regulator untuk menilai dampak sosialnya.

Masa Depan Antar-Makanan?

Uji coba ini menunjukkan satu hal, bahwa masa depan logistik perkotaan tak melulu soal motor dan mobil. Teknologi otonom bisa jadi solusi spesifik untuk tantangan spesifik.

Belum tentu besok semua pesanan datang dari udara. Tapi eksperimen ini memberi sinyal jelas, pengiriman makanan sedang berevolusi, dan langit mulai jadi jalur baru. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *