
JAKARTA, mulamula.id – Thailand kembali memilih wajah lama untuk menghadapi masa depan yang tak pasti. Anutin Charnvirakul resmi terpilih lagi sebagai Perdana Menteri setelah parlemen memberinya dukungan mayoritas, melampaui ambang batas 250 suara.
Kemenangan ini jadi cerminan arah politik Thailand yang sedang bergeser. Lebih nasionalis, lebih personal, dan tetap dekat dengan akar konservatifnya.
Gaya Santai, Strategi Serius
Di tengah citra elite politik yang kaku, Anutin tampil berbeda. Ia kerap muncul di media sosial dengan kaos santai, memasak street food, hingga memainkan musik pop Thailand era 1980-an.
Gaya ini bukan gimmick semata. Ia membangun citra sebagai pemimpin yang “membumi”, dekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat.
Bagi pemilih muda dan kelas menengah, pendekatan ini terasa segar. Sementara bagi kelompok konservatif, Anutin tetap dianggap menjaga nilai tradisional Thailand.

Nasionalisme Jadi Bahan Bakar Politik
Kemenangan Anutin tak lepas dari situasi geopolitik. Konflik perbatasan dengan Kamboja tahun lalu memicu gelombang patriotisme besar.
Puluhan korban jiwa dan lebih dari satu juta pengungsi menciptakan sentimen nasional yang kuat.
Anutin membaca momentum ini dengan jelas.“Nasionalisme ada di hati setiap orang,” ujarnya saat kampanye.
Baca juga: Skandal Telepon Bocor, Ung Ing Kehilangan Kursi PM
Ia bahkan memberi kewenangan luas kepada militer untuk bertindak di wilayah perbatasaan. Langkah yang mempertegas posisinya sebagai pemimpin tegas dalam isu kedaulatan.
Dari Koalisi Retak ke Kursi Kekuasaan
Perjalanan politik Anutin penuh manuver. Ia sempat berkoalisi dengan Partai Pheu Thai, namun menarik diri setelah kontroversi yang melibatkan Paetongtarn Shinawatra.
Percakapan telepon bocor yang menyebut tokoh Kamboja sebagai “paman” memicu kemarahan publik.
Baca juga: Telepon Rahasia Terbongkar, Thailand–Kamboja di Ujung Bara
Anutin mengambil jarak. Keputusan itu justru menguatkan posisinya sebagai figur independen di mata pemilih.
Ia pertama kali naik sebagai PM pada September 2025 setelah putusan pengadilan menggulingkan Paetongtarn. Kini, ia kembali dengan legitimasi elektoral yang lebih kuat.

Dinasti Bisnis di Balik Politik
Di balik citra santainya, Anutin adalah miliarder. Keluarganya mengendalikan Sino-Thai Engineering, perusahaan konstruksi besar yang terlibat dalam proyek-proyek strategis Thailand.
Ia juga memiliki aset mencolok, pesawat pribadi, kapal, mobil mewah, hingga koleksi jimat bernilai jutaan dolar.
Namun menariknya, latar belakang elite ini tidak menghalangi popularitasnya.
Justru, kombinasi antara kekuatan ekonomi dan gaya populis menjadi formula politik yang efektif.
Ujian Besar, Ekonomi dan Stabilitas
Kini, tantangan sebenarnya dimulai. Thailand menghadapi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan ketidakpastian global.
Anutin juga dikenal dengan kebijakan kontroversialnya, seperti legalisasi ganja pada 2022 untuk mendorong ekonomi berbasis pariwisata.
Baca juga: Dari Sapaan ‘Om’ ke Tuntutan Mundur
Kebijakan itu sukses menarik perhatian dunia. Namun ke depan, ia harus membuktikan bahwa langkah-langkah berani tersebut bisa berujung pada stabilitas jangka panjang.

Politik Gaya Baru Thailand
Kembalinya Anutin menunjukkan satu hal, politik Thailand tidak lagi hanya soal dinasti atau militer.
Ini tentang narasi. Tentang kedekatan. Tentang bagaimana seorang pemimpin membangun citra sekaligus memainkan momentum.
Dengan gaya santai namun strategi tegas, Anutin kini memegang kendali.
Pertanyaannya, apakah pendekatan ini cukup untuk membawa Thailand keluar dari tekanan ekonomi dan ketegangan kawasan? ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.