Relaksasi Ekspor Freeport Terancam Stop, Pemerintah Kirim Sinyal Keras

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung. Foto: Instagram/ KemESDM.

JAKARTA, mulamula.id Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara soal perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI). Relaksasi yang diberikan sejak Maret lalu akan berakhir pada 16 September 2025.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa izin tersebut bersifat sementara. “Untuk PTFI itu kemarin sudah diberi relaksasi karena kondisi kahar, diperkirakan selesai enam bulan. Kalau sudah selesai, ya tidak ada perpanjangan lagi,” ujarnya di Jakarta, Rabu (27/8).

Relaksasi ini diberikan akibat kebakaran yang melanda fasilitas smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur pada Oktober 2024. Peristiwa itu membuat smelter belum optimal mengolah konsentrat tembaga hasil tambang Freeport di Papua.

PTFI Tunggu Evaluasi Pemerintah

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengatakan perusahaan masih menunggu hasil evaluasi pemerintah. “Izin relaksasi ekspor memang akan dievaluasi saat mendekati masa berakhirnya. Itu yang sedang kami tunggu,” jelasnya kepada wartawan.

Tony belum memastikan apakah PTFI akan mengajukan perpanjangan. Namun, ia menegaskan bahwa evaluasi tidak hanya melihat kinerja dalam sebulan terakhir, melainkan juga mencakup laporan ramp-up produksi smelter Manyar.

Produksi kami meningkat bertahap, dari 40%, 50%, 60%, dan saat ini mendekati 70%. Kurva ramp-up sesuai dengan yang disampaikan kepada pemerintah,” katanya.

melter Manyar Kembali Beroperasi

Smelter Manyar kini telah kembali beroperasi sejak Juni 2025. Fasilitas ini kembali memproduksi katoda tembaga lebih cepat dari jadwal setelah perbaikan pascakebakaran.

“Setelah konsentrat diolah di furnace menjadi anoda, kemudian diproses di electrorefinery, hasil akhirnya katoda tembaga,” jelas Tony.

Smelter tersebut saat ini berada pada fase ramp-up menuju kapasitas penuh 100% pada Desember 2025. Tony menegaskan, akselerasi ini bukti komitmen Freeport terhadap hilirisasi mineral.

“Ini menjadi bukti nyata PTFI sebagai perusahaan tambang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sekaligus komitmen terhadap IUPK,” ujarnya.

Hilirisasi Jadi Kunci

Kisah PTFI menunjukkan tantangan besar dalam menjalankan kebijakan hilirisasi. Di satu sisi, pemerintah menuntut percepatan industri pengolahan mineral di dalam negeri. Di sisi lain, insiden seperti kebakaran smelter dapat menghambat target strategis tersebut.

Ke depan, hasil evaluasi pemerintah akan menjadi penentu. Apakah Freeport tetap bisa mengekspor konsentrat sementara, atau harus sepenuhnya mengandalkan smelter Manyar yang kini mulai pulih. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *