Salah Tafsir Bisa Fatal, Ini Cara Baca Pasal di Era KUHP Baru

Dua praktisi hukum membahas dokumen dan teks undang-undang. Cara membaca dan menafsirkan pasal menjadi kunci di era KUHP baru. Foto: Mikhail Nilov/ Pexels.

Di tengah berlakunya KUHP, KUHAP, dan UU Penyesuaian Pidana 2026, satu kata dalam pasal bisa menentukan arah putusan.

SATU kata bisa bikin beda nasib perkara.
Apalagi sejak 2 Januari 2026, hukum pidana Indonesia resmi pakai “paket baru”, KUHP Nasional (UU 1/2023), KUHAP (UU 20/2025), dan UU Penyesuaian Pidana (UU 1/2026).

Masalahnya, undang-undang itu penuh istilah yang tampak sederhana, tapi bisa punya banyak tafsir.
Di sinilah satu doktrin klasik jadi relevan lagi, noscitur a sociis.

Istilahnya memang Latin. Tapi, idenya gampang.

Artinya, Kata Dibaca dari “Teman” di Sekelilingnya

Noscitur a sociis kurang lebih berarti, makna sebuah kata ditentukan oleh kata-kata yang menemani dia dalam satu rangkaian pasal.

Jadi, jangan “mencomot” satu istilah lalu dimaknai sendirian.
Karena satu kata dalam hukum itu jarang berdiri sendiri. Itu bagian dari sistem.

Baca juga: Identitas Saksi Dirahasiakan di KUHAP Baru, Sejauh Mana Benar-benar Aman?

Contoh gampangnya begini:
kalau satu pasal menyebut rangkaian tindakan seperti “mengambil, menyimpan, memindahkan, mengalihkan”, maka makna tiap kata biasanya masih dalam keluarga perbuatan yang serupa. Bukan melompat jauh ke arti lain yang tidak nyambung konteks.

Kenapa Tiba-tiba Penting Sekarang?

Karena sekarang hakim, jaksa, polisi, dan advokat sedang ada di fase transisi besar.

Tiga undang-undang baru itu harus dibaca sebagai satu arsitektur.
Dan ketika ada frasa yang terasa “abu-abu”, penafsiran kontekstual seperti ini sering jadi penentu: apakah sebuah tindakan masuk unsur pidana, bagaimana beban pembuktian dibaca, sampai seberapa luas kewenangan aparat.

Baca juga: Melumpuhkan Pelaku Kejahatan, Kapan Bisa Dipidana?

Noscitur a sociis membantu satu hal penting, mencegah tafsir kebablasan.

Ini Beda dengan Analogi

Dalam hukum pidana, analogi sering dipersoalkan karena bisa memperluas pemidanaan.
Sedangkan noscitur a sociis justru cenderung membatasi makna agar tetap nyambung dengan teks.

Bedanya begini:

  • Analogi: menarik makna dari luar teks ke kasus yang tidak diatur.
  • Noscitur a sociis: tetap di dalam teks, tapi membaca satu kata lewat “tetangga” katanya.

Dengan kata lain, ini cara baca yang masih “satu rumah” dengan asas legalitas.

Masalah Kita, Jarang Ditulis Terang di Putusan

Di Indonesia, banyak putusan sebenarnya sudah memakai cara baca kontekstual. Tapi, sering tidak disebut “nama doktrinnya”. Akibatnya:

  • publik sulit tahu logika tafsirnya,
  • putusan jadi terasa “lompat”,
  • sulit jadi pedoman untuk perkara lain.

Baca juga: Pengamatan Hakim Jadi Alat Bukti di KUHAP Baru, Apa Bedanya dengan Keyakinan?

Padahal, di era hukum pidana baru, cara hakim menjelaskan penafsiran justru makin penting. Karena publik juga sedang belajar aturan main yang baru.

Kapan Doktrin ini Paling Terasa Manfaatnya?

Biasanya saat berhadapan dengan:

  • kata yang punya banyak arti,
  • frasa umum yang ditempel pada daftar kata-kata spesifik,
  • ketentuan peralihan (transisi KUHAP lama ke baru),
  • pasal sektoral yang sudah “disesuaikan” oleh UU Penyesuaian Pidana.

Intinya, semakin banyak istilah “umum”, semakin perlu dibaca dengan konteks.

Satu “Checklist” Biar Nggak Salah Tafsir

Kalau ketemu pasal yang bikin debat, ini pola bacanya:

  • Cari dulu kata/frasanya yang bikin ambigu.
  • Baca satu ayat penuh, jangan sepotong.
  • Lihat daftar kata di sekelilingnya, itu “teman-teman” makna.
  • Tanya, keluarga maknanya apa? (apa benang merahnya)
  • Pastikan hasil tafsirnya tidak bikin pasal lain jadi kontradiktif.

Checklist ini kelihatan sederhana, tapi dampaknya bisa besar.

Kenapa ini Relevan Buat Gen Z?

Karena hukum pidana baru ini bukan cuma urusan ruang sidang.
Itu akan menyentuh isu-isu yang Gen Z lihat setiap hari. Mulai kasus viral, bukti digital, proses penahanan, hingga debat soal keadilan di media sosial.

Baca juga: KUHAP Baru, Hakim Tak Lagi Serba Bisa

Kalau cara baca pasalnya ngawur, yang kena bukan cuma “pelaku”.
Bisa juga korban, saksi, bahkan orang yang sebenarnya tidak paham konsekuensi hukum dari satu frasa.

Di era baru, yang berubah bukan cuma pasalnya, tapi cara berpikirnya.
Dan noscitur a sociis adalah salah satu “alat kecil” yang bisa mencegah hukum jadi liar. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *