Solo Art Market, Surganya Produk Kreatif Karya Anak Muda

Deretan produk kreatif buatan para kreator muda dipajang langsung di Solo Art Market, Ngarsopuro, Solo. Pengunjung bisa belanja sekaligus bertemu langsung dengan pembuatnya. Foto: Hamdani S Rukiah/ Mulamula.

KALAU biasanya bazar akhir pekan identik dengan jajanan dan barang massal, suasana berbeda terasa di selasar Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah. Dua kali setiap bulan, area ini berubah jadi ruang kumpul para kreator muda yang memamerkan sekaligus menjual produk buatan mereka sendiri dalam gelaran Solo Art Market (SAM).

Di sini, pengunjung tidak hanya datang untuk belanja. Mereka datang untuk melihat langsung siapa sosok di balik produk yang dipajang. Mulai dari kriya, ilustrasi, aksesori fesyen, kerajinan tangan, sampai karya seni rupa, semuanya dibuat dan diproduksi langsung oleh para kreatornya, mayoritas anak muda.

Menurut penggagas sekaligus pengelola SAM, Heru Mataya, konsep ini memang dirancang sebagai ruang temu antara kreator dan publik.

Baca juga: IWTC dan Dian Oerip Menenun Makna Hari Pahlawan

“Pasar seni ini kami buat supaya seniman dan kreator bisa bertemu langsung dengan orang yang menikmati karyanya. Jadi bukan cuma transaksi, tapi ada interaksi,” ujarnya dalam percakapan dengan mulamula di lokasi.

Bukan Bazar Biasa

Setiap penyelenggaraan, sekitar 90 hingga 100 tenda kreator mengisi sepanjang selasar. Namun, jumlah itu bukan tanpa seleksi. Peminat yang mendaftar bisa mencapai sekitar 300 orang setiap bulan.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Proses kurasi jadi kunci. Pengelola ingin memastikan produk yang hadir benar-benar hasil kreasi sendiri dan punya karakter kuat. Karena itu, Solo Art Market terasa berbeda dari bazar pada umumnya yang didominasi produk massal atau reseller.

Baca juga: Cara Memulai Bisnis Kreatif: Desain, Fotografi, dan Konten Digital

Di SAM, pengunjung bisa ngobrol langsung dengan pembuat produknya. Cerita di balik ide, proses produksi, sampai tantangan membangun brand kecil sering kali jadi bagian dari pengalaman belanja di sini.

Ruang Kumpul Kreator Muda

Yang menarik, Solo Art Market juga berkembang menjadi ruang sosial baru bagi anak muda kreatif. Banyak kreator datang tidak hanya untuk berjualan, tapi juga membangun jaringan, saling mengenal, dan bertukar ide.

Suasana yang cair membuat SAM terasa seperti pertemuan komunitas terbuka. Pengunjung pun ikut merasakan atmosfer itu. Lebih santai, lebih personal, dan jauh dari kesan pasar yang kaku.

“Harapannya Solo Art Market bisa terus jadi tempat berkumpul kreator dari berbagai kota. Bukan hanya dari Solo, tapi juga daerah lain yang ingin menunjukkan karyanya,” kata Heru.

Suasana Solo Art Market di selasar Ngarsopuro, Solo, yang rutin digelar setiap Minggu pertama dan ketiga, jadi tempat kumpul kreator muda dan pemburu produk unik. Foto: Hamdani S Rukiah/ Mulamula.
Jadi Destinasi Akhir Pekan

Karena rutin digelar setiap Minggu pertama dan ketiga, Solo Art Market kini makin dikenal sebagai salah satu destinasi akhir pekan di Solo. Wisatawan yang datang ke kota ini punya alternatif aktivitas selain kuliner dan wisata sejarah.

Baca juga: Side Hustle, Cara Gen Z Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Belanja di sini juga terasa lebih bermakna. Setiap produk punya cerita, wajah, dan tangan pembuatnya yang bisa ditemui langsung. Bagi banyak pengunjung, pengalaman itu yang membuat mereka ingin kembali lagi.

Solo Art Market bukan sekadar tempat jual beli. Pasar ini tumbuh menjadi ruang di mana kreativitas anak muda mendapat panggung, dan publik bisa melihat langsung semangat di balik setiap karya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *