Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation, RI Tembus Pusat Filantropi Global

Sri Mulyani Indrawati saat berbicara di hadapan mahasiswa FEB Uuniversitas Indonesia. Mantan Menteri Keuangan itu kini bergabung dalam Dewan Direksi Gates Foundation. Foto: @smindrawati.

Mulamula.id Mantan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati resmi melangkah ke panggung baru. Bukan politik. Bukan kabinet. Tapi jantung filantropi dunia, Gates Foundation.

Lembaga yang didirikan Bill dan Melinda Gates itu mengumumkan Sri Mulyani sebagai anggota Dewan Direksi. Ini bukan jabatan simbolik. Dewan inilah yang menentukan arah, prioritas, dan alokasi miliaran dolar dana filantropi global.

Bagi Sri Mulyani, ini kelanjutan dari perjalanan panjang di arena kebijakan global. Ia menyebut dirinya merasa terhormat bisa ikut terlibat dalam fase penting yayasan tersebut. Dua dekade ke depan akan menentukan apakah dunia bisa benar-benar menekan kemiskinan, penyakit, dan ketimpangan.

Bukan Jabatan Seremonial

Masuknya Sri Mulyani ke Dewan Direksi berarti ikut menentukan ke mana uang filantropi terbesar di dunia itu mengalir. Mulai dari vaksin, pendidikan, sampai ketahanan pangan dan iklim.

Ini posisi strategis. Bukan hanya memberi saran, tapi ikut mengunci keputusan.

Jejak Global Sri Mulyani

Bukan tanpa alasan namanya dipilih.

Selama hampir satu dekade terakhir, Sri Mulyani sudah bekerja bersama Gates Foundation. Ia ikut mengkaji bagaimana teknologi, pembiayaan, dan kebijakan publik bisa dipakai untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan.

Baca juga: Sri Mulyani Bicara Usai Rumah Dijarah: Demokrasi Harus Berjalan Tanpa Anarki

Ia juga bukan figur baru di dunia global. Sebelum kembali menjadi Menkeu RI, Sri Mulyani adalah Direktur Pelaksana dan Chief Operating Officer Bank Dunia. Di sana, ia menangani negara-negara berkembang yang menghadapi krisis utang, kemiskinan, dan tekanan fiskal.

Pengalaman itulah yang kini dibawa ke Gates Foundation.

Sri Mulyani Indrawati. Foto: @smindrawati.
Suara Global South di Meja Dunia

CEO Gates Foundation Mark Suzman menyebut Sri Mulyani sebagai ekonom yang mampu mendorong pertumbuhan yang adil dan tahan krisis. Bagi yayasan, itu berarti dana filantropi bisa benar-benar berdampak.

Bagi Indonesia, maknanya lebih besar.

Selama ini, keputusan filantropi global sering ditentukan oleh elite negara maju. Dengan Sri Mulyani di dalamnya, perspektif negara berkembang ikut masuk ke ruang itu.

Ia paham bagaimana pandemi memukul Asia dan Afrika. Ia tahu bagaimana kebijakan fiskal menentukan hidup jutaan orang. Perspektif ini penting ketika dunia sedang mencari cara baru mengatasi ketimpangan global.

Indonesia kini tidak hanya jadi penerima. Tapi, ikut menjadi penentu arah. ****

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *