Try Sutrisno Tutup Usia, dari Militer ke Kursi Wapres

Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-6 (1993–1998), dalam potret resmi kenegaraan. Foto: Wikipedia.

JAKARTA, mulamula.idIndonesia kembali kehilangan salah satu tokoh penting dalam sejarah politiknya. Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3) pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Ia wafat dalam usia 91 tahun.

Kabar duka itu disampaikan keluarga melalui pernyataan resmi. Jenazah dimandikan di rumah duka RSPAD sebelum dibawa ke Menteng, Jakarta Pusat.

“Mohon dimaafkan segala kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidup. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT,” tulis keluarga.

Dari Surabaya ke Istana Negara

Try Sutrisno lahir di Surabaya, 15 November 1935. Karier militernya dimulai ketika ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat pada 1956.

Namanya mulai dikenal luas saat terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962. Di sana ia berinteraksi dengan Presiden Soeharto, sosok yang kelak menjadi atasannya sekaligus partner politiknya.

Pada 1974, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden. Kariernya terus menanjak.

Tahun 1985, ia menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Jenderal. Setahun kemudian, ia ditunjuk sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Jalur militer membawanya masuk ke panggung politik nasional.

Wakil Presiden di Masa Transisi

Pada Sidang Umum MPR 1993, ia terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto. Ia menjabat hingga 1998, masa yang penuh dinamika menjelang berakhirnya Orde Baru.

Periode tersebut menjadi salah satu fase paling krusial dalam sejarah Indonesia modern. Krisis ekonomi 1997–1998 mengguncang fondasi negara. Reformasi bergulir. Kepemimpinan nasional berubah.

Setelah masa jabatannya berakhir, posisi wakil presiden digantikan oleh B. J. Habibie dalam Sidang Umum MPR 1998.

Jejak Sejarah dan Generasi Muda

Bagi generasi yang tumbuh pasca-Reformasi, nama Try Sutrisno mungkin terdengar seperti bagian dari buku sejarah. Namun, perannya tak bisa dilepaskan dari bab penting perjalanan demokrasi Indonesia.

Ia adalah representasi era ketika militer memiliki pengaruh kuat dalam pemerintahan. Masa ketika stabilitas politik menjadi jargon utama negara. Sekaligus periode yang kemudian melahirkan tuntutan perubahan besar.

Kepergiannya bukan sekadar kabar duka. Ini juga momen refleksi. Tentang bagaimana Indonesia bertransformasi. Tentang perjalanan panjang dari Orde Baru menuju era Reformasi.

Sejarah tak selalu hitam-putih. Tetapi, selalu penting untuk dipahami.

Selamat jalan, Pak Try Sutrisno. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *