
HARI pertama COP30 di Belém, Brasil, langsung dibuka dengan kabar besar dari dunia keuangan global. Sejumlah Multilateral Development Banks (MDBs) alias bank pembangunan dunia sepakat mempercepat aliran dana untuk iklim. Fokusnya, adaptasi, alam, dan masyarakat yang paling rentan.
Langkah ini jadi sinyal bahwa pergeseran dari janji ke aksi mulai terasa. Laporan baru bertajuk “From Innovation to Impact: Building Resilience for People and Planet” memperkenalkan cara baru mengukur dan menyalurkan dana iklim, terutama untuk proyek yang melindungi alam dan keanekaragaman hayati.
Dari Belém ke Dunia
CEO COP30 Ana Toni menyebut, aksi kolektif ini bukti bahwa multilateralisme masih hidup. “Inilah contoh nyata yang kami harapkan dari COP kali ini: forum implementasi yang berdampak langsung pada kehidupan manusia,” katanya.
Baca juga: Eropa Ingin Selamatkan Iklim Tanpa Hancurkan Ekonomi
Bukti konkretnya datang lewat program investasi ARISE (Accelerating Investments in Resilience and Innovations for Sustainable Economies). Program ini baru saja mendapat suntikan awal USD 100 juta dari Jerman dan Spanyol, USD 63,25 juta dari Berlin dan USD 36,8 juta dari Madrid.
Dana Naik, Risiko Juga Naik
Presiden Inter-American Development Bank, Ilan Goldfajn, mengingatkan: “Kita harus berinvestasi sebelum bencana terjadi.” Ia menekankan pentingnya kesiapan, bukan sekadar reaksi, dalam menghadapi banjir, badai, dan kekeringan ekstrem akibat krisis iklim.

Tapi, belum semua mulus. Asisten Sekjen PBB untuk Aksi Iklim, Selwin Hart, menyoroti masih lambatnya aliran dana ke negara berkembang. Padahal kawasan ini paling rentan terhadap pemanasan global. Ia mendesak bank-bank besar untuk mempercepat langkah.
Target Ambisius, PR Banyak
Tahun 2024 saja, MDBs menyalurkan USD 137 miliar untuk pembiayaan iklim, dan menarik tambahan USD 134 miliar dari sektor swasta. Sekitar USD 26 miliar sudah masuk ke negara berkembang, dengan target naik ke USD 42 miliar pada 2030.
Baca juga: Super-Taxonomy, Bahasa Baru Keuangan Hijau dari Brasil ke Indonesia
Namun, laporan yang sama juga menyoroti “bottleneck” klasik: anggaran terbatas, proyek yang belum siap, dan minim koordinasi antarinstansi. Solusinya? Kolaborasi lintas sektor dan insentif lebih jelas buat swasta.
COP30 bukan sekadar panggung janji, tapi uji nyata: apakah uang benar-benar bisa menyelamatkan bumi? MDBs kini punya peluang besar untuk membuktikan bahwa setiap dolar yang mengalir bukan cuma angka di laporan, tapi napas baru bagi planet yang makin panas. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.