10.000 Perusahaan Dunia Resmi Masuk Era Net-Zero

Skyline Singapura, salah satu pusat bisnis Asia yang ikut terdorong menerapkan standar emisi baru dalam dunia usaha global. Foto: Saw Sing/ Pexels

DUNIA bisnis lagi nggak main-main soal iklim. Awal 2026 jadi momen penting. 10.000 Perusahaan global kini punya target penurunan emisi yang sudah divalidasi secara ilmiah lewat Science Based Targets initiative (SBTi).

Informasi mengenai capaian 10.000 perusahaan dengan target emisi tervalidasi ini disampaikan oleh Science Based Targets initiative (SBTi) dan dilaporkan dalam ekosistem pemberitaan keberlanjutan global, termasuk ESG News, yang memantau perkembangan standar iklim korporasi dunia.

Artinya jelas. Target net-zero bukan lagi janji manis atau kampanye citra. Ini mulai jadi aturan main baru dalam dunia usaha global.

Bukan Sekadar Tren Hijau

SBTi adalah lembaga yang memastikan target emisi perusahaan selaras dengan sains iklim, tujuannya menjaga pemanasan bumi tetap terkendali hingga 2050. Untuk lolos validasi, perusahaan harus punya rencana jelas, ambisius, dan mencakup emisi dari operasional sampai rantai pasok.

Baca juga: Net Zero 2060, Dilema Emisi dari Lima Sektor Kunci

Lonjakan ini besar banget. SBTi baru memvalidasi perusahaan pertama pada 2015. Tembus 1.000 perusahaan pada 2021. Sekarang sudah 10 kali lipat lebih.

Asia Makin Kencang

Menariknya, pertumbuhan tercepat justru datang dari Asia. Jepang sekarang jadi negara dengan perusahaan tervalidasi terbanyak di dunia, disusul Inggris, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Baca juga: Net Zero Butuh Lahan Sebesar India, Kok Bisa?

Ini bukan kebetulan. Banyak pusat keuangan Asia mulai memperketat aturan pelaporan emisi. Investor juga makin galak menuntut data iklim yang jelas. Perusahaan yang ingin tetap dilirik pasar global akhirnya harus ikut standar ini.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Kenapa Perusahaan Ikut?

Jawabannya bukan cuma karena tekanan moral. Iklim sudah mulai memengaruhi bisnis langsung.

Badai ekstrem mengganggu logistik. Gelombang panas memukul produktivitas. Premi asuransi naik. Investor juga mulai menilai risiko iklim sebelum menanamkan modal.

Baca juga: NZBA Bubar, Nasib Komitmen Net-Zero Perbankan Dipertanyakan

Perusahaan yang lebih dulu bergerak malah dapat keuntungan. Mereka lebih siap menghadapi aturan baru, lebih dipercaya pasar, dan punya peluang masuk ke ekonomi rendah karbon yang sedang tumbuh cepat.

Dari Klub Bola Sampai Raksasa Pangan

Daftar 10.000 perusahaan ini nggak cuma berisi industri berat. Klub sepak bola Inggris Arsenal juga sudah punya target net-zero tervalidasi. Di sektor pangan, Danone termasuk pelopor target emisi di sektor pertanian dan penggunaan lahan.

Baca juga: Google Luncurkan Teknologi Baru untuk Bantu Pabrik Pangkas Emisi

Ini menunjukkan bahwa isu iklim sekarang bukan cuma urusan pabrik dan tambang. Brand konsumen, olahraga, dan makanan pun ikut terdorong berubah.

Dampaknya ke Indonesia?

Buat Indonesia, tren ini penting banget. Banyak perusahaan lokal adalah pemasok rantai pasok global. Kalau pembeli luar negeri mulai mewajibkan data emisi terverifikasi, perusahaan yang belum siap bisa tertinggal.

Di sisi lain, ini juga peluang. Perusahaan Indonesia yang cepat beradaptasi bisa lebih kompetitif di pasar ekspor dan pembiayaan hijau.

Baca juga: NZAM Bangkit Lagi, tapi Janji Nol Emisi Kini Jadi Tanda Tanya

Angka 10.000 bukan akhir cerita. Ini tanda bahwa dunia bisnis sudah masuk fase baru, target emisi berbasis sains mulai jadi standar global, bukan pilihan sukarela. ***

Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *