Sumatra Membutuhkan Empati Kita

Warga menggunakan perahu dan rakit darurat untuk menyeberangi sungai setelah jembatan utama putus diterjang banjir besar. Banyak wilayah di Sumatra masih terisolir dan menunggu bantuan. Foto: Idris Bendung/ @Zaki Mubarak.

BENCANA besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak 24 November 2025 telah merenggut begitu banyak, rumah, harapan, dan nyawa. Namun ada satu hal lain yang hilang di tengah derasnya arus sungai, yaitu kepastian bagi ribuan keluarga yang hingga kini masih menunggu kabar tentang orang-orang yang mereka cintai.

Korban Masih Terisolir

Di banyak tempat, warga masih terputus aksesnya. Jalan-jalan utama runtuh. Sinyal komunikasi hilang. Bantuan belum menjangkau semua titik. Ada bayi yang digendong melintasi air setinggi pinggang. Ada lansia yang menatap kosong ke reruntuhan rumahnya. Ada keluarga yang berhari-hari tidak tahu apakah anggota keluarga mereka selamat atau terseret arus yang datang begitu tiba-tiba.

Pada situasi seperti inilah, Sumatra membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar ucapan duka.
Sumatra membutuhkan empati kita.

Baca juga: Aceh Terputus di Kutablang, Ribuan Harapan Menunggu…

Empati Lebih dari Sekadar Kata

Empati bukan hanya rasa kasihan. Empati adalah kemampuan untuk ikut merasakan pedih, meski kita jauh dari lokasi, kemampuan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan menyadari bahwa ada jutaan orang yang masih bertahan dalam ketidakpastian.

Ketika jembatan fisik terputus, warga membangun jembatan harapan. Ribuan orang di Sumatra masih menunggu empati dan uluran tangan kita. Foto: Idris Bendung/ @Zaki Mubarak.

Empati membuat kita melihat bencana bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia dengan nama, keluarga, dan masa depan. Empati mendorong kita untuk bertindak, tidak diam. Untuk membantu, tidak hanya menonton. Untuk hadir, tidak hanya membagikan tautan berita.

Baca juga: Banjir dan Longsor Lumpuhkan Pidie Jaya, Aceh

https://www.instagram.com/p/DRt-8XGEiyF

Saatnya Berbuat Bersama

Di tengah derita yang begitu luas, empati adalah jembatan pertama yang bisa kita bangun.
Empati yang sederhana, mendonasikan sedikit rezeki, mengirim logistik, menggerakkan komunitas, membuka jaringan bantuan, atau sekadar memastikan informasi sampai kepada yang membutuhkan.

Ketika empati hidup di hati kita, kita tidak hanya merespons bencana.
Kita menegakkan kembali kemanusiaan di tanah yang sedang terluka. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *