Kalau Reuse–Return Jadi Gaya Hidup, Polusi Plastik Bisa Hampir Nol

Tumpukan sampah plastik di pesisir menjadi potret paling nyata gagalnya sistem pengelolaan plastik global. Studi terbaru menunjukkan polusi seperti ini sebenarnya dapat dikurangi hampir sepenuhnya dalam 15 tahun melalui sistem reuse–return dan reformasi produksi. Foto: Ilustrasi/ Lucien Wanda/ Pexels.

POLUSI plastik sudah ada di mana-mana. Di laut, di sungai, di udara, bahkan di tubuh manusia. Tapi kabar baiknya, sebuah riset global bilang polusi plastik sebenarnya bisa ditekan hampir sampai nol. Serius. Caranya? Bukan teknologi rumit, tapi perubahan gaya hidup dan sistem yang selama ini kita anggap biasa saja.

Riset dari Pew Charitable Trusts bersama ilmuwan dari Imperial College London dan Oxford menemukan bahwa 66 juta ton polusi plastik dari kemasan masuk ke lingkungan setiap tahun. Dan kalau dunia cuma jalan di tempat, angka ini bakal meledak dua kali lipat dalam 15 tahun. Kebayang nggak? Satu truk sampah plastik masuk ke lingkungan setiap detik.

Masalahnya bukan kita malas buang sampah pada tempatnya. Masalahnya ada di sistem plastik itu sendiri. Produksi plastik melonjak gila-gilaan, sementara kemampuan kita untuk mengelola sampah nggak naik secepat itu.

Baca juga: 18 Kota di Indonesia Terpapar Mikroplastik Udara

Pada 2040, produksi plastik diprediksi tumbuh 52%, didorong industri kemasan yang terus bikin botol, kantong, dan wadah sekali pakai.

Tapi di tengah kabar buruk itu, ada satu harapan besar, yakni reuse–return.

Reuse–Return, Solusi Sederhana yang Efeknya Gila-gilaan

Reuse–return itu gampangnya begini:
kamu bawa wadah kosong, tukarkan atau isi ulang di kafe, supermarket, atau restoran.
Nggak perlu bahan baru, nggak perlu sampah baru.

Kalau sistem ini jalan secara massal, riset Pew menunjukkan polusi plastik dari kemasan bisa turun sampai 97% pada 2040. Yes, sembilan puluh tujuh persen. Hampir hilang.

Baca juga: Ada Mikroplastik di Perut Sapi, Dampaknya Bisa Balik ke Kita

Efeknya makin besar kalau digabung dengan:

  • larangan bahan plastik tertentu,
  • substitusi material seperti kaca atau karton,
  • dan desain ulang kemasan supaya bisa dipakai lagi.

Artinya, solusi yang kita cari bukan sekadar “daur ulang lebih banyak”, tapi menggunakan lebih sedikit dari awal.

Plastik itu Juga Masalah Kesehatan

Ini bagian yang sering luput, bahwa plastik bukan cuma merusak lingkungan, tapi juga tubuh kita.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Menurut laporan yang sama, produk plastik mengandung lebih dari 16.000 bahan kimia, dan sebagian punya hubungan dengan:

  • gangguan hormon,
  • penurunan kesuburan,
  • diabetes,
  • risiko jantung,
  • sampai kanker.

Baca juga: Mikroplastik Menyusup Lewat Sarapan, Makan Siang, dan Makan Malam

Bahkan mikroplastik ditemukan di darah manusia, air minum, dan makanan laut. Jadi ini bukan lagi isu “sampah di pantai”, tapi soal masa depan kesehatan generasi kita.

Bonus, Dampak ke Iklim Juga Turun

Plastik berasal dari bahan bakar fosil. Jadi makin banyak plastik diproduksi, makin besar emisinya.

Kalau tidak ada perubahan, emisi sistem plastik global bisa naik 58% pada 2040, setara negara penghasil emisi terbesar ketiga di dunia.

Sebaliknya, kalau dunia shifting ke reuse–return, hasilnya keren.

  • polusi turun 83%
  • emisi turun 38%
  • dampak kesehatan turun 54%
  • dan pemerintah bisa hemat US$19 miliar per tahun dalam biaya penanganan sampah.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Jawabannya, nggak harus nunggu pemerintah.
Reuse–return bisa dimulai dari hal kecil:

  • bawa tumbler,
  • pakai wadah sendiri,
  • pilih produk yang bisa diisi ulang,
  • dukung brand yang punya sistem pengembalian.

Baca juga: Produsen Plastik Wajib Tanggung Jawab, Akhir Era Sampah Sekali Pakai?

Tapi perubahan besar tetap perlu sistem besar. Pemerintah, industri, dan bisnis harus ikut main. Karena masalah ini bukan soal kita “kurang disiplin”, tapi soal sistem yang perlu dirombak.

Dunia bisa bebas polusi plastik dalam 15 tahun.
Tinggal pertanyaannya, kita mau mulai sekarang atau nanti-nanti? ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *