Hah… Indonesia Cuma Punya 122 Dokter Olahraga?

Seorang pemain mendapatkan perawatan darurat di tepi lapangan usai mengalami cedera. Minimnya dokter olahraga di Indonesia membuat pendampingan medis seperti ini belum merata di berbagai daerah. Foto: Anh Lee/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.idIndonesia bicara soal prestasi olahraga hampir setiap tahun. Stadion baru berdiri. Event digelar berulang. Atlet muda terus muncul dari berbagai daerah.
Tapi ada satu fakta yang sering luput, dokter olahraga di Indonesia sangat sedikit.

Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat, pernah menegaskan hal ini dalam sebuah forum olahraga nasional. Ia menyebut kebutuhan tenaga medis sebenarnya sama pentingnya dengan pelatih, fasilitas, atau kompetisi.

“Sebesar Indonesia, hanya ada sekitar 122 dokter olahraga,” ungkapnya ketika menyoroti minimnya tenaga medis yang mendampingi atlet.

Jumlahnya Tidak Berbanding dengan Kebutuhan

Merujuk data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) per April 2024, jumlah spesialis kedokteran olahraga (Sp.KO) tercatat hanya 102 orang.

Angka itu mungkin bertambah sedikit dalam beberapa tahun terakhir, tapi tetap tidak sebanding dengan kebutuhan nasional.

Baca juga: Cable Crossover, Multifungsi untuk Bakar Kalori dan Bentuk Otot

Banyak daerah, yang menjadi lumbung atlet dan sekaligus lokasi banyak kasus cedera, bahkan tidak punya dokter olahraga sama sekali. Atlet akhirnya hanya mengandalkan pengalaman pelatih, atau dokter umum yang tidak memiliki pelatihan khusus pemulihan dan pencegahan cedera olahraga.

Taufik mengingatkan bahwa dunia olahraga modern menuntut pendekatan berbeda. “Menjaga sebelum cedera terjadi itu penting,” katanya. Menurutnya, preventif itu inti dari sport medicine: meminimalkan risiko sebelum cedera mengakhiri karier atlet.

Karena itu, ia meminta dukungan Kementerian Kesehatan agar kapasitas pendidikan spesialis olahraga diperluas, dari jumlah kuota hingga pemerataan tenaga medis.

Belum Punya Sport Science Center Memadai

Masalah kedua, sport science.
Taufik menyebut Indonesia belum punya pusat sport science terpadu yang bisa meneliti performa, biomekanik, nutrisi, hingga psikologi atlet. Padahal, banyak negara yang mengandalkan laboratorium sport science untuk meningkatkan kemampuan atlet secara sistematis.

Baca juga: Rowing Machine, Menurunkan Berat Badan dengan Gerakan Mendayung

“Sekarang kita belum punya yang namanya Sport Science,” kata Taufik, menyoroti ketertinggalan infrastruktur riset olahraga.

Ia menilai koordinasi kuat antara Kemenpora dan Kemenkes sangat dibutuhkan. Tanpa itu, penguatan SDM dan fasilitas akan berjalan sendiri-sendiri.

Olahraga Bisa Jadi Industri Besar

Pandangan Taufik sejalan dengan gagasan Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, yang menekankan pentingnya membangun ekosistem olahraga sebagai industri nasional.

Erick melihat peluang besa. Nilai industri olahraga global mencapai US$ 521 miliar (± Rp 8.000 triliun). Namun, 40% pasar masih dikuasai Amerika Serikat. Indonesia, dengan populasi besar dan budaya olahraga kuat, seharusnya bisa masuk ke gelanggang ini.

Baca juga: Treadmill: Klasik, Praktis, tapi Tetap Ampuh Bakar Lemak

Tapi syaratnya jelas, kebijakan harus ramah industri. “Kalau pembuat kebijakannya tidak ramah dengan industri, market, publi, kebijakannya kontradiktif, ini tidak bisa,” kata Erick.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa mengandalkan anggaran kementerian untuk membesarkan ekosistem olahraga. Dukungan swasta mutlak diperlukan agar kompetisi tumbuh, event semakin banyak, dan peluang atlet semakin luas.

“Industri yang sehat akan melahirkan lebih banyak event dan prestasi,” tegas Erick.

So What untuk Indonesia?

Karena olahraga bukan lagi sekadar pertandingan.
Olahraga sudah menjadi industri kesehatan, gaya hidup, dan ekonomi kreatif.

Atllet butuh ilmu, data, dan pendampingan medis.
Negara butuh ekosistem yang terstruktur.
Publik butuh kepastian bahwa prestasi tidak hanya dibangun dengan semangat, tapi juga dengan sains.

Dan selama jumlah dokter olahraga masih di angka seratusan, Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *