
JAKARTA, mulamula.id – Peta pusat perbelanjaan Jakarta sedang berubah cepat. Tahun 2026 jadi penanda penting. Bukan lagi soal mal paling besar atau paling mewah. Sekarang, yang paling dicari adalah yang paling dekat stasiun MRT.
Ritel Jakarta sebenarnya masih sehat. Daya beli warga kota belum runtuh. Brand lokal dan global tetap ekspansi. Tapi, arah anginnya jelas berubah. Mal yang terhubung dengan transportasi massal melaju lebih kencang dibanding mal yang berdiri sendirian, jauh dari jalur publik.
MRT Jadi Magnet
Jalur MRT Fase 1 memberi bukti paling nyata. Blok M bukan lagi sekadar terminal dan pusat perbelanjaan lama. Kawasan ini menjelma jadi ruang hidup anak muda. Tempat nongkrong, ngopi, nonton, belanja, dan bikin konten. Cipete pun ikut terangkat. Kafe kecil tumbuh. Brand F&B antre masuk.
Baca juga: NICE PIK 2, Pusat MICE Terbesar yang Siap Geser ICE BSD dan JICC
MRT membuat jarak terasa lebih dekat. Datang ke mal tak perlu lagi mikir parkir atau macet. Tinggal tap kartu, turun stasiun, jalan sedikit. Praktis. Murah. Ramah waktu. Itu yang dicari generasi urban sekarang.
Efeknya terasa di angka. Tingkat hunian ritel di sepanjang jalur MRT naik stabil setelah pandemi. Mal yang “nempel” stasiun jadi favorit investor dan brand. Sementara mal non-MRT mulai tertinggal jika tak berbenah.
Peta Mal Bergeser
Perubahan ini belum selesai. Justru akan makin terasa saat MRT Fase 2 beroperasi. Kawasan seperti Glodok, Mangga Besar, dan Mangga Dua diprediksi ikut naik daun. Wilayah lama dengan sejarah panjang ini punya potensi besar. Budaya kuat, perdagangan hidup, dan nanti ditopang akses modern.
Baca juga: Sensasi Ngopi Mewah Ala Maroko di Bacha Coffee Jakarta
Tahun 2026 juga akan diwarnai masuknya ruang ritel baru. Banyak di antaranya berada di luar kawasan pusat bisnis. Ini menandakan satu hal: mal tidak lagi harus berdiri di jantung kota. Mendekati permukiman justru dinilai lebih relevan untuk kebutuhan harian.

Meski pasokan bertambah, minat brand belum surut. Penyerapan ruang tetap positif. Artinya, bisnis ritel belum kehabisan tenaga. Seleksi alam saja yang makin ketat.
Nongkrong Lebih Penting
Sektor makanan dan minuman jadi mesin utama. Minuman teh, kopi, dessert, hingga restoran keluarga terus membuka cabang. F&B bukan sekadar pelengkap. Ia jadi alasan orang datang ke mal. Setelah makan, baru belanja. Atau sekadar nongkrong dan foto-foto.
Brand fashion dan lifestyle global masih melihat Jakarta sebagai pasar penting. Bahkan merek kelas atas tetap masuk. Ini menunjukkan konsumsi belum menghilang, hanya berubah bentuk.
Baca juga: Gantungan Kunci Jadi Tiket MRT, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Bagi mal lama, 2026 adalah tahun penentuan. Renovasi bukan lagi pilihan. Desain lama, tenant usang, dan ruang yang terasa “tua” akan ditinggalkan. Pengelola mulai merombak konsep. Lebih terbuka. Lebih komunal. Lebih instagramable.
Mal hari ini bukan cuma tempat transaksi. Ia harus jadi tempat pengalaman. Tempat bertemu. Tempat cerita. Kalau gagal, pengunjung akan pindah. Atau tidak datang sama sekali.
Jakarta tidak kekurangan mal. Tapi kota ini butuh pusat belanja yang mudah dijangkau, relevan, dan hidup. MRT mengubah cara orang bergerak. Dan perubahan itu ikut mengubah cara kota berbelanja. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.